Dari Nol! (Revisi)

06.03.00

photo-5-4
"I may not have gone where I intended to go, but I think I have ended up where I needed to be" – Douglas Adam
Kapal Feri  melaju kencang, sekitar sepuluh menit lagi menurut waktu tempuh, saya akan tiba di  ujung barat Indonesia. Akhirnya, batin saya.
Setelah 10 jam duduk manja di atas bus dari Medan ke Banda Aceh. Di mana sebelumnya melakukan perjananan udara sekitar 1 jam dari Pekanbaru ke Medan. Dan kini, berada di atas kapal feri yang katanya memakan waktu  45 menit.
Wuih, rekor! Saya melakukan perjalanan udara, darat dan laut, tak kurang dalam kurun waktu 24 jam. Lelah, Hayati.
"I am a great admirer and magic.Look at this life - all mystery and magic."                                                            Harry Houdinya
Hidup itu misteri. Saya mengamini dalam hati. Sembari melamun, sesekali kapal bergoyang dihempas ombak. Di luar gerimis. Bepergian ke pantai di bulan yang memasuki musim penghujan, bulan September bukan ide yang baik.
Sebentar lagi saya akan mengijak Pulau Weh, Kota Sabang. Pantat mati rasa. Sabar, elus saya.
Sebuah misteri saya berada di sini. Perjalanan menuju pulau paling ujung barat Indonesia, Pulau Weh, merupakan manifestasi dari keinginan saya yang nggak terkabul ke titik lain. Kekecewaan menghantarkan saya ke tempat ini.
Untung tak dapat diraih, nasi Padang tak dapat ditolak. Gagal ke tempat yang saya mau, membuat saya berpikir untuk melakukan perjalanan lain. Gayung bersambut, teman yang saya tanyai mengajukan trip ke Pulau Weh. Nggak pakai ba bi bu, saya ikut!
Tanpa saya sadari sebuah keajaiban telah menanti.
Balohan. Nama pelabuhan yang menyambut kapal feri yang merapat. ‘Selamat Datang Di Pelabuhan Bebas Kota Sabang’. Bebas dalam artian, barang apapun yang masuk ke pelabuhan ini tidak dikenai pajak bea cukai.
Badan saya lemas, melakukan perjalanan tanpa jeda, ditambah kurang tidur dan sempat mabuk darat. Benar-benar menguras tenaga.
Tetapi saat kapal merapat dan kaki menjejak Sabang, Pulau Weh. Entah energi dari mana semangat saya datang. Mata langsung jreng! Bahkan sempat bernyanyi kecil dalam hati.
“Dari Sabang sampai Merauke berjajar pulau-pulau”. Lagu yang sedari kecil saya nyanyikan, tak disangka saya di sini sekarang.Dea di Sabang, nih! Cuaca pun cerah berbanding terbalik dengan hujan sepanjang perjalanan. Pertanda baik.
Rasa lelah senyap seketika. Saya dan keempat teman menyewa mobil yang banyak ditawarkan di pelabuhan buat ke penginapan. Tidak ada publik transport di Kota Sabang. Cara termudah adalah dengan menyewa mobil. Disarankan kalau ke Sabang jangan sendiri. Bagusnya ramean sama teman biar bisa patungan dan hemat.
Sepanjang perjalanan menuju ke penginapan mata saya tak henti menoleh ke samping jendela. Rugi kalau meleng sedikit. Pepohonan hijau besar dan lautan lepas yang terhampar luas sajian yang diberikan Weh saat tiba. AC alias angin cendela alias angin cemriwi sukses menyegarkan wajah saya yang ngantuk.
Kita memilih menginap di daerah Sumur Tiga di Freddie’s Santai.  Bungalow yang dimiliki oleh seorang warga negara Afrika Selatan, yang kami panggil Uncle Freddie ini terletak di tengah kota. Dan memiliki akses private beach. Penginapannya langsung menghadap pantai.
photo-5-3
Pemandangan dari kamar. Saat malam suara debur ombak terdengar jelas.
Kamar kita yang sangat sederhana. Bersih, hot shower, free tea and coffee. No AC tapi dingin dan tenang nggak ada nyamuk.
Kamar kita yang sangat sederhana. Bersih, hot shower, free tea and coffee. No AC tapi dingin dan tenang nggak ada nyamuk.
Hal yang pertama yang kami lakukan adalah makan. Urusan perut tak bisa ditunda. Rese kalau lagi lapar itu benar adanya! Harus nyobain makanan di kafe Freddie, terutama pizzanya. Dijamin, enak.
Freddie's Cafe
Freddie's Cafe
Masih Kafe yang terletak di bawah.
Masih Kafe yang terletak di bawah.
Selama makan kita ngeliatin pantai terus. Kaki kita udah gatal pingin buru-buru main ke pantainya. Sepi, berasa emang pribadi. Yippie!
View dari atas
View dari atas
Pantai Sumur Tiga
Pantai Sumur Tiga
Rasa capek benar-benar hilang. Emang bener yah, sesuatu yang indah itu bisa bikin kita lupa. Dan keindahan itu nggak jauh-jauh. Tapi ada di rumah kita sendiri.
Bosan main air kita memutuskan untuk jalan-jalan muter Kota Sabang naik motor yang disewakan oleh penginapan. Kota Sabang ini kecil nggak perlu waktu banyak untuk muterinnya.
Jangan lupa mampir ke kedai kopinya dan nyobain sanger. Sanger adalah sebutan kopi susu di Aceh. Disajikan dingin maupun panas.
Setibanya kembali ke penginapan. Bibir saya tersenyum betapa senangnya saya hari ini dan nggak sabar buat besok. Rasa bahagia saya lebih besar dari rasa capek.
"Traveling has a special scent, the scent of excitement! To smell this scent, visit the airports, or the train stations or the harbours"      Mehmet Murat lldan
Nggak ke Sabang namanya kalau kita nggak pergi ke Tugu 0 Kilometer, ke titik nolnya negeri ini. Keesokannya kita ke sana dengan mobil sewaan kemarin.  Untuk menuju ke Titik nol jaraknya cukup jauh dan jalan yang dilalui berbelok-belok dan menanjak.
Tugu Kilometer 0 Indonesia
Tugu Kilometer 0 Indonesia
Kalau bisa sempetin buat foto di atas batu ini. Tapi batu ini terletak di luar pagar pembatas. Dan harus sangat hati-hati. Gesrek sedikit kita bisa jatuh ke dalam laut lepas, Samudera Hindia. Airnya biru banget. Katanya semakin biru semakin dalam. Serem.
Jadi saya saranin harus sangat hati-hati. Tapi pemandangan di belakangnya worth it dengan usaha buat foto di atas batu ini. Tapi sekali lagi harus hati-hati.
Saya duduk di atas batu paling ujung Barat Indonesia
Saya duduk di atas batu paling ujung Barat Indonesia
Harus hati-hati untuk berfoto di sini
Harus hati-hati untuk berfoto di sini
Udah ke Tugu 0 Kilometer, belum sah dong kalau nggak punya sertifikatnya. Harus punya. Saya bayar Rp30.000, nanti di sertifikatnya tertera bahwa kita adalah pengunjung ke berapa. Walaupun perhitungannya sangat tidak akurat dan diragukan keabsahannya. Karena  pernah dengar ada dua sampai tiga tempat dulu yang bisa membuat sertifikat ini.
Sedihnya sertifikat ini ketinggalan di penginapan, hu hu! Salahnya saya, udah dimasukin amplop dan masih ketinggalan. Punyanya teman saya juga di situ. Mungkin ini cuma cara semesta agar saya balik lagi ke sini. Iyain aja.
Kita lalu snorkeling ke Pulau Rubiah. Untuk menuju ke sana harus menyebrang dari Pantai Iboih sekitar 5 menit. Airnya jernih banget berwarna tosca dan indah banget. Saya nyesal nggak bisa diving. Indonesia yang memiliki surga bawah laut, terus nggak bisa diving itu rasanya rugi banget.
Pantai Iboih
Pantai Iboih
Menyebrang naik speed boat ke Pulau Rubiah untuk snorkeling
Menyebrang naik speed boat ke Pulau Rubiah untuk snorkeling
Have Fun!
Have Fun!
Batu karang di bawahnya bagus banget. sayang nggak ke foto.
Batu karang di bawahnya bagus banget. sayang nggak ke foto.
Weh artinya pindah.  Berarti Pulau Weh itu pulau yang telah berpindah. Saya diberi tahu langsung oleh orang Weh aslinya, Abang supir yang menemani kita keliling. Dulu Pulau Weh ini menyatu dengan Banda Aceh dan lalu terpisah.
Sedangkan Sabang sendiri, abang supirnya nggak tahu. Dulu cuma disebut We saja. Keamanan di Pulau Weh ini 99% aman, tambahnya.
Ini terbukti di pinggir jalan atau di tempat makan, motor sama kuncinya dibiarkan menggantung ditinggal.  Nggak diambil apalagi dikunci.  Bayangkan kalau ini terjadi di tempat kita.
Jangankan begitu, udah dirantai, digembok masih bisa hilang! Apalagi ninggalin kunci. Ini dikarenakan hampir penduduk di sini saling kenal.  Kalau ada yang berbuat kriminal itu dipastikan pendatang dari luar.
Setelah puas snorkeling kami menuju Benteng Jepang Anoi Hitam. Peninggalan benteng pertahanan semasa pendudukan Jepang. Sabang yang diapit Samudera Hindia dan Selat Malaka dipilih Jepang sebagai pos pengintaian dan pertahanan.
Waktu di perjalanan menuju benteng, di kiri kanan kadang kita bisa melihat bekas bunker Jepang.  Dan sekarang sudah banyak ditimbun dengan tanah.
Konon kata abang supir, sering ada anak-anak kecil iseng untuk masuk ke bunker ini. Tersesat dan kemudian habis napas lalu meninggal. Semenjak itu sebagian besar bunker ini ditimbun demi keamanan.
Jalan menuju ke atas bukit
Jalan menuju ke atas bukit
Menuju atas benteng kita harus menaiki anak tangga yang curam. Dan setelah itu jalan landai ke atas. Kita berlima kehabisan napas dan membuktikan kita adalah lima orang yang tak pernah olahraga.
Sesampai di atas bukit ada pos pegintai serta meriamnya dan bunker menuju ke bawah tanah. Bulu kuduk saya naik seketika masuk. Auranya berbeda. Pos pengintainya tidak terawat dan suram. Berhadapan langsung dengan laut lepas. Tidak sempat difoto karena perasaan saya sedikit tidak enak.
Saya jadi membayangkan masa lampau, ketika prajurit Jepang memantau musuh dari pos ini dan mungkin menembakkan meriamnya. Dan sembunyi di bunker bawah. Merinding membayangkannya.
Pemandangan dari atas bukit ini indah sekali. Laut lepas biru dan angin sepoi-sepoi menyenangkan.
Pemandangan dari atas bukit
Pemandangan dari atas bukit
Hari itu kita tutup dengan pergi ke Sabang Fair. Duduk sembari jajan yang dijajakan sepanjang perjalanan. Saya sedih karena besok sudah balik. Nggak mau pulang.
Terlepas dari trip yang cukup singkat ini. Trip yang tidak saya rencanakan, tapi berangkat dari rasa kecewa gagal pergi ke tempat yang saya mau. Malah membawa saya akhirnya ke Sabang, Weh.
Dan saya sangat bersyukur bisa ke sini, bukan ke tempat yang saya mau. Saya tidak menyesal sama sekali.
Sewaktu melakukan perjalanan darat menuju Banda Aceh dari Medan saya sempat mabuk darat berat. Entah mungkin saya sudah lelah duluan. Sepanjang perjalanan saya berantem sama diri sendiri, kenapa harus pergi ke sini. Mendingan di rumah tidur nyaman enak jam segitu.
Muntah membuat saya drop. Tapi ketika saya sudah sampai tujuan melihat, mendengar, merasakan dan menjejak tempatnya. Perasaan itu lenyap tak berbekas. Melihat Pulau Weh yang indah dan suasananya. Bahagia saya tak berperi.
Weh mengajarkan saya untuk bersabar. Zona nyaman tidak akan membawa saya ke mana-mana. Kalau saya harus melewati muntah lagi, saya akan tetap mau ke Pulau Weh dan senang hati menjalaninya.
Karena saya sudah tahu apa yang akan menanti. Ketidaktahuanlah yang membuat saya pesimis, kadang-kadang menyerah di tengah jalan.
Tapi ketidaktahuanlah yang mungkin membuat kita terus berjalan, bertanya, berusaha dan menerka-nerka akan apa.  Mungkin kalau kita tahu akan seperti apa, kita akan berhenti berjalan dan bertanya.
Tuhan membiarkan ketidaktahuan dalam otak kita supaya kita tetap waras dan mau jalan. Mungkin.
Ketika pulang perjalanan darat naik bus Banda Aceh ke Medan itu malahan molor sampai 16 jam, yang seharusnya 10-12 jam. Dan saya baik-baik saja. Tidak muntah sama sekali. Saya menikmati perjalanan dan bahagia.
Efek perasaan bahagia memang luar biasa. Badan saya juga sudah beradaptasi. Jangan menyalahkan keadaan tapi beradaptasilah. Weh mengajarkan saya beradaptasi.
Perjalanan ke Titik Nol ini membuat saya berpikir. Hidup memang misteri. Hidup selalu memberikan yang kita butuhkan bukan yang kita mau. Dan bertahanlah.
"Travel teaches as much as a teacher' Amit Kalantri
"Travel teaches as much as a teacher' Amit Kalantri
Menjejak pulau ujung paling Barat ini benar-benar istimewa bagi saya. Tidak hanya karena indah tapi mengajarkan saya banyak hal.
Di titik nol saya menemukan pribadi yang lebih baik.
Bertahanlah! Di ujung sana ada hal yang indah.
Sebelum melangkah lebih jauh melihat Tuhan menginginkan saya untuk belajar dari nol terlebih dahulu. Ini caranya menunjukkan hal yang indah dan sabar.
Dimulai dari nol saya akan terus melangkah. Dari nol menuju ribuan kilometer keindahan negeri ini dan melihat dunia. Dan saya akan terus membaca dunia.
Dari nol!
Keterangan :
Ke Kota Sabang, Pulau Weh
  • Untuk menuju Pulau Weh, bisa melakukan penerbangan dari kota asal, langsung menuju ke Bandara Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh. Dari bandara menuju ke Pelabuhan Ulee Lheu sekitar 20 menit bisa menggunakan taksi dikenakan biaya sekitar Rp120.000 - Rp150.000
  • Alternatif lain bisa dulu ke Medan seperti yang saya lakukan. Ini karena teman saya berada di Medan, sekalian jalan-jalan dulu. Dari medan menggunakan bus selama 10-12 jam. Saya rekomendasikan Sempati Star, Rp175.000 - Rp300.000
Penyeberangan Pelabuhan Ulee Lheu (Banda Aceh) – Pelabuhan Balohan (Kota Sabang, Pulau Weh)
Ada dua pilihan yaitu menggunakan kapal cepat dan lambat :
  • Kapal feri cepat (45 menit)                                  Banda Aceh                                   Weh
Kelas Eksekutif     : Rp80.000                               9.30 & 16.00                                 8.00 & 14.00
Kelas VIP                : Rp105.000
Jadwal keberangkatan setiap hari
  • Kapal lambat (2 jam)
Kelas Ekonomi      : Rp30.000 (D) & Rp20.000 (anak)
Kelas Bisnis            : Rp50.000 (dewasa) & Rp40.000 (anak)
Kelas Eksekutif     : Rp60.000 (dewasa) & Rp50.000 (anak)
Jadwal keberangkatan                                          Banda Aceh                                   Weh
Senin – Kamis                                                          8.00 & 14.00                                 8.00 & 14.00
Jumat                                                                        7.30, 10.00, 16.00                       7.30, 10.00, 15.00
Sabtu- Minggu                                                        8.00, 11,00, 16.00                       8.00, 11.00, 15.00
Tips :
Waktu dapat berubah-berubah karena faktor cuaca. Saya sarankan untuk memilih keberangkatan kapal pagi. Waktu itu kami memilih kapal cepat untuk efiensi waktu.
Dan setelah tiba di Pelabuhan Balohan, Sabang, Weh lebih baik kita segera membeli tiket untuk kepulangan.  Karena penyeberangan selalu ramai dan susah untuk mendapatkan tiket pulang. Beli di calo harga akan naik. Atau jadi penumpang gelap, tidak disarankan.
Dan apabila beruntung, katanya kita bisa melihat lumba-lumba.
Penginapan
Untuk menginap ada banyak pilihan sesuai budget dan lokasi. Pilihan kami jatuh di Freddy’s Sumur Tiga karena letaknya di tengah kota. Dan gampang mau ke mana-mana.
Untuk melihat harga, tipe kamar yang diinginkan dan booking silakan mengunjungi websitenya di sini
Pengalaman saya menginap di Freddy’s Sumur Tiga menyenangkan.
Range harga Rp300.000-Rp800.000
*Freddie’s Sumur Tiga sudah punya bungalow baru yang nyaman dan lebih menarik
Penyewaan Motor & Mobil
  • Motor
Untuk penyewaan motor, kami menyewa di Freddy’s Sumur Tiga. Waktu itu kami hanya menyewa untuk setengah hari. Untuk setengah hari dikenakan biaya Rp50.000 dan satu hari penuh Rp100.000
  • Mobil
Dikarenakan tidak ada publik transport, menyewa mobil adalah pilihan satu-satunya atau motor. Disarankan jangan pergi bertiga, kan tanggung. Naik motor nggak bisa. Sewa mobil mahal karena cuma patungan bertiga.
Pengalaman saya, sebaiknya sebelum tiba pastikan saja untuk menyewa mobil di mana. Sudah banyak di internet saya lihat. Saya tidak bisa rekomendasikan yang mana, karena kami go show. Perjalanan ini tanpa direncanakan. Ingat berawal dari kecewa.
Setelah tiba di Pelabuhan Balohan digetok per orang Rp20.000 untuk mengantarkan ke penginapan. Itu pun setelah tawar-menawar naik kijang kotak tanpa AC. Karena malas mencari lagi. Besoknya masih memakai jasa Abang yang sama. Satu harian penuh dan mengantarkan lagi ke labuhan lusanya itu Rp 500.000

Oleh karena itu untuk yang mau ke Sabang pastikan dulu penyewaan mobilnya, harganya, tipe mobil apa agar nyaman setiba di sana. Penyewaan cukup mahal berkisar Rp 600.000 – Rp 1.000.000/hari tergantung jenis mobil apa.
Snorkeling
Kami memilih cukup snorkeling daripada diving karena keterbatasan kemampuan berenang. Dan snorkeling sudah cukup menyenangkan. Tapi Weh terkenal dengan keindahan bawah lautnya, jadi rugi bila tidak eksplorasi. Bagi yang ingin diving salah satunya bisa menghubungi Iboih Dive Centre atau Monsterdivers.
Untuk penyewaan snorkeling juga bisa dilakukan di tempat tersebut atau di pinggir Pantai Iboih banyak yang menyediakan jasa ini
Waktu itu kita milih All In Package untuk lima orang, perlengkapan snorkeling, speed boat menyebrang serta tour guide sebesar Rp 1.250.000. Jadi setiap orang dikenai biaya Rp 250.000

You Might Also Like

0 komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Subscribe