Mantra Bali

02.41.00

Tanah Lot, Bali
source : pixabay.com



“Apa? Belum pernah ke Bali? Hari gini belum pernah ke Bali! Serius?”

Nada tak percaya itu dilontarkan oleh salah satu teman saya, ketika kami sedang bicara perihal tentang jalan-jalan.

Iya, benar. Saya belum pernah ke Bali. Saat hampir semua orang sudah mengunjunginya bahkan turis mancanegara berbondong-bondong datang. Saya belum sekali pun menjejakkan kaki ke tanah Dewata itu.

Bali bagi saya seperti orang yang ditaksir. Melihatnya dari kejauhan lalu mendengar banyak cerita dari orang yang pernah menemuinya. Saya sendiri menunggu kesempatan yang tepat. Jatuh cinta diam-diam.

Layaknya orang kasmaran saya mencari tahu segala hal tentangnya. Seakan sangat mengenalnya, tanpa pernah tertatap muka. 

Psstt...mereka bilang saya monyet kepo!

Bali. Pulau yang diapit oleh Pulau Jawa dan Pulau Lombok ini memang penuh daya tarik. 

Sebelum Bali se-hipster sekarang ini, dikenal banyak orang akan keindahannya. Siapa sangka dahulu Bali hanya sebagai persinggahan sejenak kapal-kapal yang ingin mencari rempah-rempah di Kepulauan Maluku.

Awalnya Pulau Bali adalah tempat transit bukan tujuan. Pantai Kuta yang terkenal dengan matahari terbenamnya (Sunset Beach) dulu adalah sebuah pelabuhan. 


Pantai Kuta
source : pixabay.com
Bandar Kuta sangat ramai karena letaknya yang strategis menjadi jalur pelayaran dari Jawa, Singapura dan menuju bagian Kepulauan Nusa Tenggara. Hal ini membuat Kuta menjadi pusat perdagangan di Bali.

Setelah beratus-ratus tahun berlalu, kini Bali menjelma menjadi destinasi impian semua orang. Tujuan utama tak lagi rempah-rempah tapi mencari hal yang berbau indah. 

Dan setiap mendengar atau membaca cerita tentang yang pernah datang ke sana, dengan antusias mereka mengatakan jatuh cinta kepada Bali. Dan ingin kembali lagi. Tak bosan.

Hal ini membuat saya berpikir. Bali pasti tidak hanya menyuguhkan keindahan sehingga mampu memukau dan membuat semua yang bertemu tersenyum langsung jatuh cinta. 

Saya yakin lebih sekedar dari itu. Karena sesuatu yang indah di luar, sejatinya harus diiringi yang indah di dalam untuk memikat.

Matra apa yang berada di Bali, sehingga semua tersihir ingin kembali dan tak bisa lupa? 

Mayoritas penduduk di Bali adalah beragama Hindu. Ajaran yang melekat, tradisi dan adat istiadat sangat dijunjung tinggi oleh masyarakat Bali. 

Bali terkenal dengan keramahannya. Ini semua karena Menyama braya. Menyama braya adalah sebuah konsep dimana bahwa semua orang adalah saudara atau keluarga. 

Nilai-nilai inilah yang mendasarkan untuk selalu hidup dalam damai dan harmonis. Saling menghargai perbedaan sangat kental sekali terasa di Bali. Sebuah kearifan lokal. Tak ada jengah dalam beda membuat Bali nyaman untuk disambangi.

Bicara tentang Bali tentu tak lepas dari tradisi. Tradisi yang berpadu dengan budaya menjadi magnet tersendiri bagi wisatawan. Keunikan yang jarang ditemui di tempat lain.

Salah satu yang ingin saya ceritakan adalah subak. Perpaduan kebudayaan dengan tradisi yang dilapisi sesuai ajaran menghasilkan keindahan. 

Pasti kalian sudah pernah mendengar atau melihatnya. Saya pertama kali melihatnya pada postcard, oleh-oleh seorang teman dari Bali.

Jika pergi ke Bali dan melihat sawah yang berundak-undak dan bertingkat (terasering) terlihat sangat indah, nah, itu adalah subak. Sawah yang bertingkat-tingkat itu tidak hanya bertujuan keindahan semata tapi diperuntukkan untuk pembagian air. Disribusi air sangat penting di dalam subak.

Subak
source : pixabay.com
Subak sederhananya adalah sistem pengairan atau irigasi sawah di Bali. Dan sistem ini diatur dalam sebuah organisasi kemasyarakatan. Diketuai oleh pemuka adat yang disebut Pekaseh yang juga petani dan dikelola bersama dengan petani lainnya.

Subak ini tidak hanya perkara sistem irigasi, loh. Tetapi subak mencakup banyak hal. Dalam penerapannya subak sangat memegang teguh kepentingan bersama. 

Serta berdasarkan prinsip keadilan dan asas gotong royong. Segala tentang kegiatan bercocok tanam dimusyawarahkan bersama-sama. 

Tak hanya itu, kegiatan ini adalah bentuk nyata pengaplikasian filosofi Tri Hita Karana. Apa itu? Tri artinya tiga. Hita adalah kebahagiaan dan Karana adalah penyebab. Tiga hal penyebab terjadinya kebahagiaan.

Maksudnya adalah hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan sesama manusia dan hubungan manusia dengan lingkungan. Ketiga hal inilah yang menjaga keseimbangan dan keharmonisan di dalam subak. Dan mendatangkan kesejahteraan bagi semua.

Sistem irigasi subak tidak memerlukan pupuk maupun pestisida. Sistem ini mampu mengendalikan hama dan sangat ramah lingkungan. Karena sangat alami petani harus bersabar untuk memanen sawahnya dan kegigihan untuk mengelolanya.

Memanen Padi
source : pixabay.com
Air adalah sumber terpenting. Pembagian air dilakukan secara adil. Setiap hak dan kewajiban petani sudah diatur. Peraturan atau yang disebut awig-awig harus dijalankan dengan teguh oleh setiap petani, bagi yang melanggar akan diberikan sanksi.

Biasanya di setiap subak terdapat pura untuk memohon kesuburan dan rejeki kepada Dewi Sri, Dewi kemakmuran dan kesuburan. 

Inilah yang membuat subak bukan hanya sistem irigasi. Ketiga hubungan itu dijalankan beriringan dan berdampingan. Kepada Tuhan, kepada manusia, kepada lingkungan. Tri Hita Karana.

Tak salah bila akhirnya pada tahun 2012,  UNESCO organisasi PBB dalam bidang pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan menetapkan subak sebagai Warisan Budaya Dunia. Pengakuan ini tentu sangat menggembirakan.

Ini membuktikan bahwa subak adalah asli budaya Indonesia yang tidak bisa ditemukan di tempat lain dan selayaknya dilindungi oleh dunia dan kita lestarikan.

Subak adalah sebuah jejak mahakarya. Warisan budaya yang telah turun menurun ribuan tahun. Tak hanya bagi kita tapi juga dunia. Kita harus cukup berbangga karena subak mencerminkan jiwa Indonesia.

Mempertontonkan pada dunia bahwasanya kita adalah bangsa yang berbudaya. Hidup bergotong royong, penuh kesabaran, tidak pantang menyerah, selalu gigih dan memegang teguh nilai-nilai luhur.

Setelah mengatahui semua itu, saya tersadar tak ada mantra di Bali. Yang ada ialah jiwa. Bali berdenyut dengan hati dan keindahannya. Bali menyihir bukan dengan mantra, sekedar kata-kata. Tapi dengan keanggunan dan pribadi yang mempesona.

Dan hati saya jatuh bahkan sebelum menjejak.

P.S.



Kartu Pos Subak
Postcard ini adalah pemberian teman oleh-oleh dari Bali tujuh tahun yang lalu. Saya tak pernah mengira akan menulis tentang gambar ini bertahun-tahun setelahnya. Dan mungkin akan segera melihatnya. Hidup itu misteri!


You Might Also Like

4 komentar

  1. buset, itu header gede banget dah!

    salam keren
    takdos
    travel comedy blogger
    http://www.whateverbackpacker.com/

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lol, gaptek Mas Adis. Nggak tau harus digimanain.

      Salam keren blog backpackernya. :D

      Hapus
  2. Halo, salam kenal ya. habis follow twitter, langsung aku berkunjung ke blognya. hehe. menarik!
    Kebetulan aku dari Bali. Belum pernah keliling bali utara kan? khususnya Singaraja? yuk mari ke sana. Banyak spot menarik tentunya!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo, Mas Anif.

      Salam kenal dan terima kasih sudah mampir. Akhir November kemarin sudah mengelilingi Bali Utara selama 6 hari. Kebetulan saya menang lomba www.kitaINa.id dan hadiahnya ke Bali Utara. Dan tentu banyak spot menarik di sana. :) Hanya belum sempat diceritakan

      Dan ingin kembali ke Bali.

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.

Subscribe