Perayaan Bersama

08.42.00

Keinginan melihat Festival Perang Air atau Cian Cui pupus sudah. Sebuah festival ala Sonkran yang saya dengar seperti di Thailand dan katanya seru sekali, dilaksanakan setahun sekali di Selatpanjang menyambut Imlek.

Gelombang pasang yang cukup tinggi dan belum menemukan  teman berjalan, mengurungkan niat saya ke sana. Perjalanan dari Pekanbaru ke Selatpanjang harus ditempuh dengan perjalanan darat dan laut kurang lebih selama lima jam.

Akhirnya saya pasrah, hanya menatap Festival Perang Air dari layar kaca. Jari saya tak berhenti scrolling gambar, melihat kemeriahan Festival Perang Air dan mantan di hari Imlek. Keduanya bahagia dan meriah.

Mendung bergelayut sedari pagi, hujan mengintai mau turun. Belakangan ini Pekanbaru diguyur hujan hampir setiap hari. Kota yang biasanya panas ini, ralat sangat panas, kini sedang mellow-mellow-nya.

Kalau hujan di hari Imlek berarti itu pertanda baik. Rejeki akan mengalir turun setahun ke depan. Itu yang teman sekolah saya dulu katakan.

Setelah bosan kepo tak henti-henti melihat handphone dari satu sosial media ke sosial media lainnya, saya putuskan keluar melihat kemeriahan Imlek di Pekanbaru. Kecewa tidak menghantarkan saya ke mana-mana. Saya harus bergerak.

Pekanbaru adalah ibukota provinsi Riau. Riau sendiri adalah salah satu provinsi yang jumlah konsentrasi  etnis Tionghoa cukup banyak dan toleran.


Terletak di bagian tengah pantai timur Pulau Sumatera dan berada di pesisir sepanjang Selat Melaka, membuat Riau menjadi persinggahan serta masuknya masyarakat Tionghoa sedari dulu.

Sampai ke pelosok  kota kecil di Riau pun keturunan Tionghoa ada. Dan paling banyak tersebar di tiga kota yaitu Bagansiapiapi, Selatpanjang dan Bengkalis.

Imlek dirayakan besar-besaran dan begitu meriah di ketiga kota ini. Seperti Festival Perang Air (Cian Cui) di Selatpanjang, Bakar Kapal Tongkang di Bagansiapiapi dan di Bengkalis akan ada acara meriah di Kelenteng.

Sebagai Ibukota Provinsi, Pekanbaru juga menjadi tempat tinggal etnis Tionghoa. Dan sejenak saya ingin merasakan Tahun Baru Cina 2568 kali ini.

Cuaca dan hati yang mendung tidak menghalangi langkah saya. Bergerak ke kawasan pecinan di Jalan Dr.Leimena atau yang lebih dikenal Jalan Karet. Perayaan Imlek di Pekanbaru berpusat di kawasan ini. Dikarenakan keturunan Tionghoa di Pekanbaru banyak bermukim di daerah Jalan Karet.

Sabtu sore pukul 4, belum ada tanda kemeriahan apa-apa di kawasan Jalan Karet selain lampion yang bergelantungan, jalanan basah sisa hujan dan hati yang menyibukkan diri. “Nanti malam pasti ramai’, pikir saya.

Sembari menunggu malam hari saya pergi ke Vihara di sekitar kawasan tersebut. Vihara Surya Dharma begitu nama yang tertera di dinding depan. Aroma hio yang dibakar mengisi udara menelisik indera penciuman saya. Saya mengambil beberapa foto di halaman Vihara.


Vihara Surya Dharma


Pulang Sembahyang
“Kalau mau foto-foto ke atas saja”, ujar Akong yang melintas lewat melihat saya tengah mengambil foto. Awalnya saya sedikit ragu apa boleh mengambil foto di atas. Dan karena ajakan Akong saya lantas langsung naik ke atas.

Di atas saya melihat masih ada tersisa beberapa orang tengah sembahyang. Tidak terlalu ramai, karena hari sudah sore, yang lain sudah pulang.

Mempersiapkan Dupa
Sembahyang


Perlahan saya menghampiri beberapa pria paruh baya yang sedang bercerita. Mencoba bertanya mengenai perayaan Imlek. Mereka lalu menunjuk satu orang yang menjadi penanggung jawab Vihara Surya Dharma ini.

Kong Aseng begitu dia minta dipanggil. Kong Aseng menjelaskan Vihara Surya Dharma ini dibangun pada tahun 1982, tapi belum di atas tanah yang sekarang. Sejak 16 tahun lalu baru Vihara ini pindah. Secara bertahap dlakukan renovasi sampai bertingkat dan permanen.

Kong Aseng
“Di sini kita umum. Apapun agamanya, Dewanya, boleh sembahyang di sini. Pertama kali harus menyembah Tuhan di depan pintu”, ujar Kong Aseng sambil menunjuk sebuah altar di depan. “Menyembah Tuhan di atas”, tambahnya.

Awalnya saya bingung apa yang dimaksud Kong Aseng. Setelah cari tahu perbedaan Kelenteng dan Vihara, saya baru mengerti. Umumnya vihara adalah rumah ibadah bagi umat Budha. Dan tidak semua keturunan Tionghoa beragama Budha ada Konghuchu dan Tao. Vihara Surya Dharma ini  bersifat umum seperti Kelenteng.

Dewa-Dewa
Dewa Penjaga Pintu

Makna Imlek bagi Kong Aseng adalah ungkapan rasa syukur. Setelah melewati setahun yang lalu berterima kasih dan berdoa untuk kesehatan, rejeki, kebahagiaan untuk setahun ke depan. Di mana tahun ini adalah Tahun Ayam Api.

Di sela-sela pembicaraan, Kong Aseng mengupas jeruk lalu mengunyahnya perlahan. “Ini jeruk dimakan, Imlek kita harus makan yang manis-manis”, katanya sambil memberi saya sebuah jeruk yang saya terima dengan senyum lebar.

Persembahan Untuk Dewa
Buah-buahan dan juga permen. Di hari Imlek harus menyajikan yang manis-manis

Lilin Terus Dinyalakan Agar Harapan Tetap Menyala dan Menerangi



Kong Aseng menjelaskan perayaan Imlek adalah saatnya berkumpul dengan keluarga. Mereka yang muda atau anak berkumpul di rumah orang tua. “Seperti lebaran”, pikir saya. Angpao juga tak lupa dibagikan sebagai doa kepada anak mereka. Angpao diberikan kepada mereka yang belum menikah.

“Kami sangat percaya karma, kita harus berbuat baik”, kata pria paruh baya berusia 70-an itu. Kong Aseng bilang dia lahir sebelum merdeka. Saya hanya menerka usianya masih di kepala tujuh dari perawakannya.

Selain jeruk, saya juga diberi pao bewarna pink berisi kacang merah di dalamnya. Senyum tak lepas dari wajah saat menerimanya. Hati saya hangat ditaburi keramahan mereka semua. Saya disambut dan dijamu dengan baik.

Pinky Pao dan Jeruk
Kemeriahan Imlek saya rasakan gempita di dalam hati.

Saya harus merayu Kong Aseng untuk berpose seperti ini. "Malu", katanya
Pengurus Vihara Surya Dharma
Hari beranjak senja, saya pamit pulang. Kong Aseng mengantarkan saya ke depan pintu dan berkata Vihara ini ramai tadi pagi dan ada barongsai juga. Ah, saya terlambat!

Saya kembali menuju ke kawasan pecinan, Jalan Karet. Jalan yang panjangnya cuma 148 meter itu mulai dipadati pengunjung. Lampu lampion yang berjumlah 1888 setiap tahunnya mulai dinyalakan.

Lampion yang berjumlah 1888 buah.



Lokasi ini menjadi tempat yang menarik untuk mengambil foto. Mata saya menyapu ke sekeliling, sejauh memandang saya melihat penduduk lokal di mana-mana. Saya menanti acara apa yang akan disuguhkan di tanggal 1 Tahun Baru Cina ini.


First, Let Us Take A Selfie!

Dan saya harus menelan kekecewaan. Ternyata bazar dan acara sudah dilaksanakan pada tanggal 19-22 Januari kemarin. Tema perayaan Imlek di Kota Pekanbaru bertema “Dengan Semangat Bhineka Tunggal Ika, Kita Bangun NKRI yang Sejahtera dan harmonis”.

Berbeda dengan tahun sebelumnya, Imlek tahun ini mengajak semua golongan, suku dan agama berpartisipasi di pertunjukkan yang diadakan untuk menyambut Imlek.


Aksi Salah Satu Paguyuban di Imlek
Source : NADA RIAU

Perayaan Imlek tahun ini menampilkan ragam budaya. Semua padu dalam satu pertunjukkan  dan berbondong-bondong masyarakat menontonnya. Bahkan ada parade baju daerah katanya.

Tapi saya hanya melihat panggung kosong. Saya menyesal karena tidak menyaksikan pertunjukan bersama-sama itu. Melihat semua membaur dalam beda.

Panggung Kosong Seperti Hati.
Penyesalan selalu datang terlambat. Di awal pikiran saya dipenuhi dengan pergi melihat Festival Perang Air (Cian Cui). Terkadang kita memang terlalu sibuk memikirkan sesuatu yang jauh dan tidak pasti, sampai lupa membuka mata ada hal yang indah di dekat kita.

Semakin malam Jalan Karet semakin ramai. Apapun sukunya, agamanya semua bersuka cita tanpa ada prasangka. Hati saya terasa hangat kembali untuk kedua kalinya. Lampion merah berpendar-pendar di atas kepala menerangi semua.

Melihat kemeriahan Imlek malam itu, tak lupa sebuah pesan saya kirim, mengucapkan selamat Imlek kepada salah satu teman yang merayakannya. Tak sampai di situ, saya juga mengajukan pertanyaan demi pertanyaan perihal Imlek. Dengan sabar dia menanggapinya sampai satu jawaban membuat saya tersadar.

“Imlek itu merayakan tahun baru. Sama aja kayak orang Cina, Jawa, Arab merayakan tahun baru masehi 1 Januari. Siapapun boleh merayakan. :)”, balasnya.

Hati saya hangat untuk ketiga kali di hari itu. Imlek adalah bukan untuk siapa-apa. Imlek adalah perayaan bersama. Hari ini saya belajar dari perayaan Imlek di kota ini dan dari orang-orangnya. Saya bersyukur.
Acara Imlek di Pekanbaru
"Dengan Semangat Bhinneka Tunggal Ika, Kita Bangun NKRI yang Sejahtera dan Harmonis"

Saya juga ingin melihat Festival Imlek Indonesia lainnya. Melihat keanekaragaman tradisi dan budaya. Katanya semakin kita banyak berjalan, mendengar dan merasa, hati kita akan terbuka. Menghargai perbedaan dan saling mengerti.

Festival Imlek Indonesia di Palembang

Di perayaan Imlek tahun ini, saya berdoa agar negara ini baik-baik saja. Semua tersenyum dalam beda. Dan saya bersyukur kota saya, tanah Melayu mampu bersanding dengan budaya lain tanpa ada curiga.

Saya keturunan setengah Melayu dan setengah Jawa dan saya ikut merayakan Imlek. Karena Imlek adalah sukacita kita semua. Bagi yang selalu bersyukur dan berdoa. Karena Imlek bukan perayaan siapa-siapa. Imlek adalah perayaaan bersama.

“Makan jeruknya. Katanya kalau manis setahun ke depan hidupnya bagus, kalau asam berarti susah”, terang teman saya yang menemani melihat perayaan Imlek sewaktu pulang.

Saya nggak percaya, tapi kalau asam tentu nggak enak. Dan untuk pertama kalinya seumur hidup saya grogi mengupas jeruk. Saya ambil satu bagian dan kunyah secepatnya. Air jeruk langsung mengisi ruang mulut. Mata saya reflek terbuka lebar.

You Might Also Like

4 komentar

  1. Ah Provinsi Riau keren y mbak dsaat perayaan imlek. Ah kapan bisa ke Riau..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mas Fajrin. Ayuk main ke Riau. ;)
      Belum pernah juga ke Lampung.

      Hapus
  2. menarik ya klenteng ini, akhirnya dirimu berhasil membujung si akong buat berfoto.

    aku suka arsitektur dari bangunan klenteng ini :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya dirayu dulu, dan untungnya Akongnya akhirnya mau. Koh Deddy terima kasih sudah hampir. :)

      Happy Shincia ��

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.

Subscribe