Berjalan Lebih Jauh

06.20.00

Roadshow kitaINA Livingstone Cafe, Bali
Roadshow KitaINA Livingstone Cafe, Bali.           
 Sumber : KitaINA
“Gimana perasaanya menang, coba digambarin kayak apa?”
Saya bingung. Saat diwawancara ditanya hal apa yang paling bahagia, tanpa pikir panjang langsung menjawab menang kompetisi KitaINA. Dan bahagianya seperti apa, saya tidak menemukan penggambaran yang tepat saat itu.
Saya tahu kini. Mhm..rasanya seperti salju turun di gurun pasir. Impossible. Kayak nggak mungkin tapi terjadi. Dan baru-baru ini salju turun di gurun pasir Arab Saudi. Fenomena asing, perubahan cuaca katanya. Gurun pasir yang identik kering panas bukanlah tempat salju turun. But, yeah, nothing is impossible!
Jadi menang kompetisi ini, seperti salju yang turun di gurun tandus. Tidak menduga sama sekali akan menang. Melihat peserta lain membuat saya tidak berekspetasi apa-apa. Tapi saat itu saya hanya ingin ke Bali.
Semesta mendengar. Tuhan mengabulkan. Dukun tak sampai bertindak.
Pergi jalan-jalan ke Bali selama enam hari, gratis, cukup cuma bawa badan melangkah manja. Eh, nggak manja juga, sih. Soalnya kita mengarungi lautan, lewati lembah, lintasi utara singgahi selatan. Bercumbu dengan matahari. Muka udah kayak makanan yang digoreng kelamaan, gosong.
Tapi ada yang mengintip ingin keluar setiap harinya. Apa itu?
Rasa bahagia..
Sesuatu yang indah melahirkan bahagia. Orang Indonesia adalah orang-orang yang bahagia. Karena kita hidup di negeri di mana indah adalah pakaian kita.
Dan saya menemukan sebagian keindahan itu di Utara, Bali.
"Bangun. Sebab pagi terlalu berharga tuk kita lewati dengan tertidur." ~ Banda Neira
Sayup-sayup terdengar pengumuman pesawat akan segera mendarat. Mata saya kriyep-kriyep, bangun jam 3 pagi mengejar penerbangan, membuat saya setengah sadar.
Landasan pacu basah saat pesawat tengah bersiap-siap untuk landing. ‘Ah, musim hujan’ pikir saya. Bali baru saja diguyur hujan deras pagi itu. Sedikit khawatir cuaca untuk enam hari ke depan. Ini pertengahan November di mana memasuki musim penghujan.
Kalau hujan terus, jalan-jalan ini akan terhambat pasti. Saya cuma berprasangka baik dan berujar dalam hati ‘All iz well, all iz well. Hakuna Matata’. Semua baik-baik saja, jangan khawatir!
Untuk pertama kalinya saya bertemu dengan pemenang lain serta tim kitaINA di salah satu gerai fastfood di bandara. Berkenalan satu sama lain, saya dan kedua pemenang lainnya ternyata seangkatan. Angkatan tua, dalam artian kita seumuran.
Bersama wiranurmansyah dan Setapak Kecil. Kedua lelaki ini mengajak jalan kaki ke Kuta. Nggak usah ditanya panasnya kayak apa.
Bersama wiranurmansyah dan Setapak Kecil.
Sambil nunggu roadshow, kedua lelaki ini mengajak jalan kaki ke Kuta (((jalan kaki))) siang-siang. Jangan ditanya panasnya kayak apa.
Tak lama setelah itu kita memutuskan untuk segera berangkat ke tujuan. Bali yang ingin kita sambangi terletak di utara. Memerlukan waktu kurang lebih 4 jam ke sana. Tak ingin membuang waktu kita segera cuss berangkat.
Searah dengan resort tempat kita menginap kita mampir ke Bedugul. Bedugul?
Coba periksa dompet deh, perhatiin lembar uang pecahan lima puluh ribu. Kalau nggak punya? Pinjem ke sebelah, lalu pura-pura hilang ingatan saat dikembalikan.
Di sebalik sisi uang pecahan lima puluh ribu rupiah kita bisa melihat sebuah gambar pura dan tertera keterangan ditulis Danau Beratan, Bedugul. Pura tersebut adalah Pura Ulun Danu.
Saat saya ke sana, saya nggah ngeh kalau Pura ini yang berada di lembar uang lima puluh ribu. Satu-satunya yang saya ingat adalah uang dengan gambar Soekarno-Hatta, sangat hapal karena selalu senang di dekatnya.
Mudah untuk menemukan pura ini karena berada di tepi jalan raya Bedugul-Singaraja. Tepatnya di Desa Candikuning, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan.
Pura Ulun Danu sebenarnya berada di tepi Danau Beratan. Tetapi bila debit air sedang naik pura ini terlihat seolah-olah mengambang di danau. Dan saat itu kita beruntung air danau sedang naik.
Pura Ulun Danu di tepi Danau Beratan
Pura ini digunakan untuk memuja Dewi Danu. Dewi Danu adalah dewi air, danau dan sungai. Dewi Danu menggambarkan sosok Dewi Parwari, istri Dewa Siwa, lambang kesuburan.
Konon pura ini telah ada sejak tahun 1556 Saka ( tahun 1634 masehi) dan masih terawat dengan sangat baik hingga sekarang.
Dalam Komplek Pura Ulun Danu ini  terdiri dari lima buah pura dan satu buah stupa. Pura Penataran Agung, Pura Dalem Purwa, Pura Taman Beiji,  Pura Lingga Petak, Pura Prapajati dan Stupa Buddha.
Dan pura yang tergambar dalam uang pecahan lima puluh ribu itu adalah Pura Lingga Petak yang merupakan bagian dari Pura Ulun Danu.  Di dalamnya ada sebuah sumur keramat yang menyimpan air suci, Tirta Ulun Danu.
Atap bertingkat di menara pura mempunyai makna. Menggambarkan pemujaan terhadap tiga dewa. Dewa Wisnu (11 tingkat), Dewa Brahma (7 tingkat), Dewa Siwa (3 tingkat)
Atap bertingkat di menara pura mempunyai makna. Menggambarkan pemujaan terhadap tiga dewa.
Dewa Wisnu (11 tingkat), Dewa Brahma (7 tingkat), Dewa Siwa (3 tingkat).
Terletak di daerah pegunungan Bedugul, membuat tempat ini berbeda dengan Bali daerah lain yang terkenal panas. Ditambah saat itu gerimis dan berkabut cukup tebal.
Ini Folks, Bali atau Lembang, saya bingung. Ketika melihat pepohonan tinggi hijau di sekitar, saya menduga, jangan-jangan Cullen sedang berada di atas sana. Dingin dan berkabut.
Danau Beratan
Danau Beratan
p1000073
Anak-anak bermain setelah upacara adat
p1000071
Komplek Kawasan Pura Ulun Danu. Bersih dan asri.
Kalau ke Bali jangan lupa  ke Bedugul dan singgah ke Pura Ulun Danu. Gerimis tidak menghalangi saya menikmati keindahan pura ini.  Kamu juga harus merasakannya.
Setelah puas kita melanjutkan kembali perjalanan.
"Kamu nggak ngantuk?”, tanya Mbak Feby di sebelah saya, salah satu tim kitaINA yang akan menemani kita selama perjalanan ini. Saya menggeleng.
Rasa ngantuk saya hilang karena perasaan yang begitu excited. Ini pertama kalinya saya ke Bali. Saya ingin merekamnya dengan baik. Saya tidak mau ketinggalan melihat apa disuguhkan dari balik jendela hanya karena tertidur.
Apa yang akan saya lihat lima hari ke depan, membuat semua syaraf-syaraf  riang menjadi terjaga sepenuhnya.
Dari nol saya berjalan lebih jauh. Dari barat menuju utara. Apa yang lihat, rasa dan jejak masih banyak. Banyak cerita yang ingin disampaikan. Bicara tentang keindahan tanah air ini, memang tak pernah ada habisnya.
Cerita ini belum selesai. Saya ingin membagi. Dan pasti akan terus berjalan lebih jauh lagi.

“Berjalan lebih jauh, menyelam lebih dalam. Jelajah semua warna. Bersama..bersama..bersama.”
Banda Neira - Berjalan Lebih Jauh

You Might Also Like

2 komentar

  1. Angkatan tua? sorry yaa..saya masih sangat muda :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Puas-puasinlah Dit naik gunung, mumpung sekarang. Bentar lagi pasti nggak kuat. Sekumpul kemarin aja udah capek banget kan. Umur nggak bisa bohong. :D

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.

Subscribe