Menikmati Jakarta Murah Lewat Sejarah

05.50.00

“A visit to a museum is a search for beauty, truth, and meaning in our lives. Go to museum as often as you can.”  - Maira Kalman –

“Di sebelah kiri kita bisa melihat Museum Nasional atau lebih dikenal dengan Museum Gajah”, terang seorang pemandu melalui pengeras suara kepada seluruh penumpang bus.



Mata saya bergerak ke arah yang dimaksud, sebuah gedung museum di balik jendela, dipayungi awan kelabu manja di atasnya.

Setelah bosan dengan ML “Mal Lagi”, pagi itu saya melangkahkan hati untuk menikmati Jakarta dengan cara berbeda. Pelan-pelan, tak terburu-buru.

Ritme kota ini cepat, semua terlihat berlari agar tak ketinggalan. Saya butuh rehat sejenak.

Rasa penasaran, menghantarkan saya duduk di atas bus ini dan mendekatkan lagi pada kegemaran, Museum Hopping.

“Kenapa namanya Gajah? Karena di depan Museum Nasional ada sebuah patung Gajah pemberian Raja Thailand Chulanglongkorn pada tahun 1871”, ujar pemandu menambah informasi.

Gajah yang dimaksud adalah sebuah patung yang terletak persis di depan Museum Nasional.

Patung Gajah Ikon Museum Nasional
Patung gajah diberikan sebagai bentuk terima kasih Raja Rama V, Raja Chulanglongkorn, atas kunjungannya ke Jakarta, yang kemudian diletakkan persis di depan pintu museum.

Membuat museum ini lebih dikenal dengan Museum Gajah. Terbukti ketika saya menyebut Museum Nasional, banyak yang mengira itu Monas (Monumen Nasional), selain jaraknya yang memang dekat.

Museum nasional adalah museum terbesar dan terlengkap di Indonesia, bahkan se-Asia Tenggara.

Sang pemandu terlihat sibuk membolak-balikkan sebuah album. “Ibu-ibu, Bapak-bapak inilah Raja Chulanglongkorn”, sambil mengedarkan foto ke pandangan para penumpang. Semua antusias ingin mengetahui wajah dari Raja Thailand itu.

Museum Nasional saat ini sedang direnovasi. Gedung A tempat di mana patung gajah berada di depannya, akan ditutup sampai Juli tahun depan. Tapi Gedung B yang berada di sebelahnya, masih dibuka untuk umum.

Denah Ruangan Museum Nasional Indonesia
Gedung A yang sedang  direnovasi merupakan bangunan peninggalan Belanda. Dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda, untuk menampung berbagai koleksi. 

Yang berasal dari Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, yaitu sebuah lembaga dalam bidang seni dan ilmu pengetahuan kala itu.

Sayang, saya tidak bisa mengintip koleksi di Gedung A yang juga dikenal dengan Gedung Arca sampai tahun depan, hanya menjelajahi gedung di sebelahnya, Gedung B.

Patung Pusaran Karya Nyoman Nuarta Berjudul " Ku Yakin Sampai Di Sana" juga ditutup. Merupakan lokasi yang instagram-able bagi pengunjung Musuem Nasional
Kesan museum yang seram dan membosankan tidak ditemukan di Museum Nasional. Museum ini bernuansa modern dan tidak creepy.

Setiap Lantai Terdapat Eskalator dan Lift
Museum Nasional Gedung B Terdiri dari 4 lantai, di mana lantai teratas dijadikan tempat koleksi Emas dan Keramik, tidak diperbolehkan untuk mengambil foto.




Saya sering beradu tatap dengan satpam di lantai 4, karena kamera tertengger di leher. Mereka mencoba menangkap basah, apabila tengah diam-diam mencuri foto.

Pak, saya nggak pernah diam-diam mencuri apapun kecuali hati!

Museum Nasional memiliki koleksi kurang lebih 140.000 terdiri dari koleksi prasejarah, sejarah, arkeologi, etnografi dan lain-lain.






Di tengah-tengah mengamati koleksi, saya mendengar bahasa yang satu dua patah kata, tahu artinya. Mereka terlihat antusias sekali mendengar penjelasan dari guide yang menemani.

Saya menguping, sayang nggak ngerti. Dan saya, iri sekali dengan mereka. Mereka punya guide yang menjelaskan semua tentang koleksi museum.

Turis Korea yang tengah serius mendengar penjelasan
Unni, Annyeong!
Sedangkan saya mencoba untuk memahami sendiri sejarah dari koleksi, walau terkadang tidak lengkap.

Mungkin ini yang menyebabkan orang malas datang ke museum, tak jarang keluar dari museum nggak dapatkan apa-apa, hanya sebatas benda mati, kurang informasi.

Hal yang paling menarik dari sejarah adalah cerita di baliknya.

Alangkah baiknya disediakan pemandu yang biberi jadwal dengan jelas, sehingga bagi siapa saja yang ingin berkunjung bisa menyesuaikan. Maunya sih, gitu.

Selain melihat koleksi, ketika saya berkunjung sedang diadakan Pameran Jalur Rempah Masa Kedautan Sriwijaya. 

Di mana digambarkan perjalanan Kerajaan Sriwijaya sebuah kerajaan maritim besar yang menguasai perdagangan dan jalur rempah.

Kerajaaan Sriwijaya Menguasai Jalur Rempah Selama 600 Tahun 
Display berbagai macam rempah-rempah menarik perhatian saya. Selain keterangan pada dinding, informasi tentang kejayaan Sriwijaya juga divisualisasikan dalam bentuk animasi, sangat informatif dengan cara menyenangkan.

Kerajaan Swrijaya Menerapkan Pajak Cukup Besar Kepada Para Pedagang Arab, Cina dan Bagi Siapapun yang Bersandar Di Pelabuhan




Pameran ini berlangsung hingga akhir November.

Harga tiket untuk masuk ke Museum Nasional hanya sebesar Rp 5000,- dan rata-rata semua museum yang saya kunjungi di Jakarta juga dikenakan biaya yang sama. Museum yang milik pemerintah, ya, bukan swasta.

Dan museum tutup di hari Senin dan hari libur nasional. Jangan main ke museum kalau hari Senin, karena pada tutup.


“Pemberhentian kita selanjutnya adalah Gedung Arsip Nasional”, sahut pemandu. Membuyarkan lamunan tentang Museum Nasional.

Sudah lama saya penasaran dengan bus warna-warni bertingkat, yang sering kelihatan wara-wiri di jalan. 

Dengan tulisan besar “Wisata Keliling Ibukota!” dan Enjoy Jakarta. Wisata apakah gerangan dan menikmati Jakarta seperti apa?

Saya penasaran dan skeptis secara bersamaan.

Kota ini hanya bisa dinikmati, kalau punya duit nggak ada limit, pikir saya.

Rasa ingin tahu, membawa jari ini ke website Transjakarta. Bus bertingkat itu ternyata bernama Bus Wisata Jakarta Explorer. 

Bus ini melayani beberapa rute wisata (City Tour) di Jakarta. Ada Sejarah Jakarta, Jakarta Baru, Kesenian & Kuliner, Pencakar Langit Jakarta dan Cagar Budaya.

Dan yang paling terpenting adalah bus ini tidak dipungut biaya alias gratis. Saya ke mana saja selama ini, baru tahu! Mungkin saya nggak sendiri.

Lalu saya memilih rute yang saya sukai yaitu History of Jakarta. Selain Bahasa Indonesia, sejarah adalah nilai tertinggi zaman sekolah dulu. Supaya apa? Supaya kamu tau aja.

Sumber : TransJakarta
Berdasarkan rute History of Jakarta, saya menyusun rencana akan Museum Hopping. Dimulai dari Museum Nasional lalu menuju kawasan Kota Tua, berhenti di Museum Bank Indonesia.

Di luar dugaan, bus ini menyenangkan sekali, ada pemandu di dalamnya yang menjelaskan sekilah tentang sejarah bangunan yang dilalui.

Setelah menikmati Museum Nasional, saya duduk menunggu di halte bertuliskan City Tour di plang, tepat di depan Museum Nasional.

Bus Double Decker atau Bertingkat Ini Mempunyai Kapasitas 66 Orang, 14 di Lantai Bawah dan 52 di Lantai Atas. 
Pemberhentian terakhir bus adalah Museum Bank Indonesia. Terdapat banyak museum yang berdekatan di kawasan Kota Tua.

Sesampainya di sana, banyak sekali terlihat anak muda, sekedar bersantai atau bermain di kawasan ini. Saya bertanya-tanya, apa mereka tahu sejarah Kota Tua dan main ke museum?

Taman Fatahillah
Tahu itu namanya bukan Museum Fatahillah, tapi Museum Sejarah Jakarta. Bahkan dulu di belakang museum dijadikan tempat hukum pancung, entah berapa ratus orang yang mati ditebas kepalanya.

Atau Museum Wayang itu dulu adalah gereja, terdapat kuburan di pekarangan belakang, termasuk nisan pendiri Batavia.

Mungkin sebagian tidak tahu. Dan saya sedikit tahu, karena mencari tahu sendiri. Saya merindukan seorang guide di setiap museum.

Harusnya pihak museum memberdayakan anak muda untuk memandu generasi muda lainnya untuk tahu tentang sejarah, harusnya.

Untuk mengunjungi semua museum, nggak cukup sehari. Saya lebih dari sekali berkunjung ke sana. 

Museum apa saja yang berada di Kota Tua dan yang pernah saya kunjungi, saya ilustrasikan dengan gambar di bawah ini.

Peta Kawasan Kota Tua
Cerita tentang museum lainnya mungkin akan diceritakan di lain waktu. Seperti sendirian di ruang bawah tanah Museum Mandiri yang creepy, lukisan melirik di Museum Keramik dan Seni Rupa dan cerita lainnya.

Semoga malas nggak memeluk saya, karena pelukannya melenakan seperti pelukanmu.

Gerimis mulai turun saat pulang, bus melaju pelan. Kendaraan rapat dan padat. Tak seperti biasanya, saya tak kesal. 

Sore itu hati saya hangat tak penat. Setelah yang saya alami, rasanya saya ingin berseru ke penduduk kota ini untuk rehat, menikmati Jakarta.

Tak perlu merogoh kocek dalam, tapi riang. Menikmati Jakarta dengan murah lewat sejarah.


“It’s not a museum, It’s not a place of artifacts, It’s a place of ideas.” Jeanie Kahnke


You Might Also Like

0 komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Subscribe