Lelaki Kopi

08.29.00


I’m feeling mighty lonesome
Haven’t slept a wink
I walk the floor and watch the door
And in between I drink
Black coffee.....

Mataku terpejam sayup-sayup terdengar  suara mendayu-dayu milik Ella Fitzgerad. Lagu bernuansa jazz yang indah Black Coffee. Kusesap perlahan kopi di depan, secangkir espresso. Ini pertama kalinya aku membuat espresso dari mesin espresso yang kubeli sendiri.
“Merah? Serius!” Mata biji kopinya membulat penuh tanda ketidaksukaan. Aku tertawa melihat raut mukanya, saat sedang marah pun dia terlihat lucu.
“Memangnya kenapa merah, Le? Aku kan suka”, jawabku. Aku langsung jatuh cinta ketika melihat mesin espresso rumahan buatan Italy ini. Desainnya  yang vintage serta harga yang masih terjangkau  dikantong. Dan yang paling pasti, Delonghi Icona Vintage ECO 310 ini punya seri warna favoritku. Merah.
“Kata Mas yang jual, walau kecil begini tapi canggih, Le. Selain espresso, kamu bisa bikin cappucino sama latte! Tapi kalau kamu nggak suka modelnya, ya, udah. Nanti aku cariin model yang lain.” Tiba-tiba sepasang tangan memelukku dari belakang. Sebuah kecupan mendarat di pipi sebelah kanan.
“Makasih yah. Aku suka banget kok.”
Semenjak hari itu dirinya tak pernah absen membuat espresso. Rutinitas harian di dapur sebelum berangkat kerja. Setelah berhari-hari puasa bikin espresso karena yang lama telah rusak. Hadiah ulang tahun ke-29 untuknya tak sia-sia.
Kulirik ke arah kabin penyimpanan barang, melihat benda bundar di atasnya. Pukul 2.15 pagi. Aku terbiasa duduk sendiri di dapur menyeduh teh sembari diiringi alunan musik jazz. Ritual bila tak bisa tidur. Tapi kali ini bukan teh melainkan kopi. Meneguk yang dicintainya selain aku.

I’m talking to the shadows
From 1 o’clock till 4
And lord, how slow the moments go
When all I do is pour
Black Coffee

 “Le, kamu lebih milih nggak ada aku atau nggak ada kopi di dunia ini?”, tanyaku saat melihatnya memasukkan bungkusan kopi ke dalam ransel. Kami mau mengunjungi orang tuaku di Sukabumi. Kemana pun dia pergi selalu membawa kopi bersamanya. Dia tak mau pernah sembarangan minum kopi apalagi sachet. Itu bukan kopi menurutnya.
 “Na, kamu itu hati aku. Kopi itu jiwa aku. Aku mencintai kamu sepenuh hati. Aku mencintai kopi sepenuh jiwa.”
“Apa bedanya sih Le, hati sama jiwa. Bilang aja kamu nggak bisa tanpa kopi. Nggak usah alasan gitu.” Dia memang pandai berbicara.
“Kamu sih pake nanyanya gitu. Aku nggak bisa nggak ada dua-duanya. Kamu sama kopi”, jawabnya sambil menyeringai lebar. Membuatku tak tega memarahinya.
Aku masih mengingat kejadian itu dengan jelas. Tak masalah yang dicintainya kopi asal bukan perempuan lain. Mataku menangkap senyumnya yang lebar di dapur ini. Tersenyum sambil memelukku di sampingnya. Dia bersikeras menaruh satu bingkai foto di dapur. Katanya salah satu rahasia kopinya menjadi nikmat karena melihat foto kami berdua saat membuatnya.
Selain kamar tidur, dapur adalah tempat yang paling sering menghabiskan waktu berdua. Berbincang sepulang kerja atau sesekali aku memasak untuknya. Dan paling sering menemaninya ngopi. Aku suka melihatnya menyeduh kopi. Dan aku teringat pertama kali mencicipi kopi kesukaannya.

I’m moaning all the morning
And mourning all the night
And in between it’s nicotine
And not much heart to fight
Black coffee

 “Kopi yang paling kamu suka apa, Le”, tanyaku sambil melihat wajahnya yang begitu serius sedang menyium biji kopi yang baru dibelinya. Aku penasaran karena dia sangat mencintai kopi. Bagiku rasa kopi selalu sama. Pahit. Dan aku pasti langsung diceramahi abis-abisan ketika mengutarakannya pendapat itu.
“Aku suka semuanya, Na. Setiap kopi itu punya karakter masing-masing. Jadi selagi itu namanya kopi aku suka."
“Yang paling kamu suka, Le. Aku mau tahu!” Setengah memaksa aku bertanya.
“Mhm..aku suka kopi Indonesia. Single Origin, Toraja Yale”, sahutnya
“Toraja Yale? Kenapa?
“Karena mirip namaku. Gale. Gale dan Yale kan pas, Na!” Dahiku mengernyit tak menyangka alasannya sesederhana itu. Melihat wajahku yang terkejut itu. Gale tertawa.
“Selain itu, ya, karena rasanya. Kamu harus coba. Aku bikinin buat kamu.”
Gale tahu aku tak suka kopi. Tapi aku selalu tersihir setiap kali melihatnya menyeduh kopi. Aku tak pernah melihatnya seserius itu di hidupnya selain membuat kopi.
‘Ini namanya Toraja Yale, Na. Asalnya dari Toraja Utara. Di atas bukit yang namanya Lembang Sapan di kecamatan  Buntu Pepasan.” Gale menjelaskan sambil menunjukkan bungkusan dan butiran kopi di dalamnya. Aku takjub dirinya hapal sedetail itu.
“Aku grinding dulu yah biar fresh." Mataku menyapu yang terlihat di depan mini bar dapur kami. Gale punya semua keperluan untuk menyeduhnya. Sebut saja timbangan digital, teko, timer, lalu semacam bentuk cangkir  kerucut yang nanti air kopinya menetes ke wadah di bawahnya. Aku tak tahu apa namanya. Tapi sering melihat Gale menuangkan air ke cangkir berbentuk kerucut itu.
“Nah, ini udah halus, yang aku grinding tadi biji kopinya light roast. Nggak terlalu pahit”  Aku mendengarkan dengan seksama apa yang dijelaskannya. “Karena ini Toraja Yale aku lebih suka manual brewing nggak pake mesin. Pake alat-alat ini”, tunjuk Gale ke semua perlengkapan yang ada di depannya. “Manual V60!”
“V60? Apa itu Le?”, sahutku bingung. Aku tak pernah menyangka untuk perkara menyeduh kopi saja, begitu banyak macam cara dan istilahnya. Aku kira hanya bubuk kopi diseduh air panas. Bila terlalu pahit tambah gula. Beres.
“Nggak diseduh air panas aja, Le? Kok ribet amat?” Gale tersenyum.
“Kalau itu kopi tubruk, Na, diminum sama ampasnya. Kalau diseduh dengan cara begini karakter kopinya keluar, clean nggak ada ampasnya. V60 itu sebenarnya nama alat ini. Ini Hario V60!” Gale memperlihatkannya padaku. Jadi yang aku pikir cangkir berbentuk kerucut ternyata itu V60 namanya.
Aku melihat Gale menyiapkan sebuah kertas ke dalam cangkir kerucut itu. Dan melihatnya membasahinya dengan air panas. “Dibasahin dulu  filter kertasnya biar nggak rusak rasa kopi. Aku bikinin yang soft yah buat kamu.” Aku mengangguk. Aku serahkan semua pada Gale.
Gale terlihat sibuk menakar bubuk kopi, menghidupkan timer. Dan dia terlihat bersungguh-sungguh. Sebenarnya ekspresi dan gestur Gale lebih menarik dibandingkan rasa kopi yang akan kucicipi.
Tangannya pelan-pelan menuangkan air, membentuk gerakan melingkar. Terdiam sesaat lalu mengulangnya kembali. Perlahan air kopi menetes ke bawah. Setelah semua air turun. Gale menuangkannya ke dalam gelas.
“17 gram kopi, ratio1:12 , digiling medium, light roast, suhu 85 derajat. Waktu brewing kurang dari 2 menit. Toraja Yale spesial buat Nona Rena”, Gale mengoceh tanpa aku tahu sedikit pun mengerti maksudnya.
“Sebelum diminum cium dulu aromanya, Na”, ujar Gale menyarankan. Kuhirup aroma yang keluar dari kopi yang panas. “Wangi, Le. Kok nggak item?” Kopi dihadapanku tidak berwarna hitam seperti biasa yang kulihat.
“Iya sengaja buat kamu aku bikinin yang soft. Cobain deh”, perintahnya. “Diseruput pelan-pelan.”
Perlahan kusesap kopi favorit Gale ini. “Asam Le,” ujarku. Tapi anehnya rasanya nggak pahit dan nggak kuat seperti yang aku kenal. “Nggak pakai gula?”
“Cara yang baik untuk tahu karakter kopi itu diminum tanpa gula. Pahit nggak?” Aku menggeleng. “Mungkin karena kamu masih belum terbiasa bedain rasa kopi.”
Gale mencium kopi yang dibuatkannya untukku dan menyeruputnya. “Kalau bagi aku Yale itu karakternya manis, asam, markisa, tamarind, caramel. Aku suka banget. Dan aromanya yang earhty rasanya fruity.
      Ekspresinya malam itu terekam abadi di ingatanku. Gale. Galaksi Bima Sakti. Sedari kecil dipanggil Gale. Lelaki yang menikahiku dua tahun lalu. Seperti namanya Gale adalah pusat sistem tata surya dalam kehidupanku. Dia berhasil menyedotku ke dalam lubang hatinya. Tak hanya namanya yang menarik. Keseluruhannya mampu menarik aku jatuh cinta setiap hari padanya.
Kulirik ponsel di samping kiriku. Tergoda untuk membukanya walau aku tahu apa yang akan terjadi. Tanganku bergerak meski hatiku menolak.  Kusentuh lambang pesan.  Bergerak mencari pesan darinya.

From : Lelaki Kopi

Rena sayang, aku udah sampai di pos 5. Sebentar lagi sampai ke puncak. Kalau aku telat ngabarin, berarti sinyalnya susah. I love you. Miss you to the mount and back. Muachh..
Friday, Aug 2, 20:21

Dikirim 19 hari yang lalu. Pesan terakhir darinya. Gale dinyatakan hilang sehari setelahnya. Tim SAR berhenti mencari semenjak beberapa hari yang lalu. Gale pergi ke Toraja melihat langsung yang begitu disukainya. Kebun kopi dan mendaki gunung.
Kueja satu-satu setiap kata yang ditulisnya. Tak peduli ribuan kali melihat pesan itu seluruh sendiku rontok. Hatiku melorot ke jurang paling dasar. Dan mataku bagai aliran sungai yang tak berhenti mengalir. Tapi malam ini aku rayakan dengan secangkir kopi dan senandung lagu.
 Pelan-pelan kuelus perutku yang masih rata. Aku punya kabar bahagia bila Gale pulang. Aku juga membeli banyak biji kopi untuknya kemarin. Espresso mulai dingin. Kopi tak lagi pahit tapi asam. Di belakang lirih masih terdengar alunan dari piringan hitam.

Black coffee
Feelin’ low as the ground
It’s driving me crazy just waiting
 for my baby
To maybe come around..around
I’m waiting for my baby
To maybe come around
           ~ Ella Fitsgerald “Black Coffee”

You Might Also Like

15 komentar

  1. Penulis mampu memberikan pemaparan yg detail ttg kopi dan dapat membawa pembaca merasakan kesedihan yg di alami rena..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Serius amat, Kak. Kayak lagi jawab esai Bahasa Indonesia yah..
      Penulis mengucapkan terima kasih atas ketersediannya meluangkan waktu untuk membaca. Dan diharapkan ke depan tidak pernah bosan untuk mampir.:D

      Hapus
    2. :D jadi lucu sendiri bacanya...

      Hapus
  2. Aaaah..
    Detail bikin kopi terbayang,serasa ikutan ngeliat gale nyeduh kopi...


    Ternyata ceritanya sediiih.. :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi, Mutia. Thanks for visiting.

      Siapa tahu nanti Galenya pulang. Nggak sedih. :)

      Hapus
  3. oh lelaki kopi....kenapa kamu prgi meninggalkan separuh hatimu gegara kopi? heheheh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lebih baik gara-gara kopi atau gara-gara gula nggak pulang, Kak?

      Gula-gula. Mana mungkin suamiku pulang ke rumahmu~

      Hapus
  4. cerita ringan namun menarik, it surprised me you know a lot about coffee.
    thought u've been doing this thing since ages, rite?
    remarkable works after all, Dhea :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Suprisingly, I don't drink coffee. And don't know anything about it earlier. The power of kepo after all.

      Thanks for reading yah, Ninta Chan. :)

      Hapus
    2. Chan is sooo yester-year btw >,<

      Hapus
  5. Tak ku sangka, bisa sekeren ini...
    Lelaki kopi, semoga tetap memberikan kopi terbaik..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wuih, baristanya Krema datang. Iya, Mas makasih yah info-info tentang kopinya.

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.

Subscribe