Balige, Tak Hanya di Dalam Tapi Juga di Luar

9:53 PM



"Dea, temenin Opung beli gas. Gasnya abis mau masak air untuk mandi“, ujar Opung sambil menenteng gas elpiji ukuran 3 kg.

Balige pukul lima pagi layaknya tatapan Rangga, dinginnya menusuk kalbu perlahan ke sembilu. Nggak akan ada yang tahan mandi dengan airnya sedingin batu es. 

Beberapa hari ini di Balige, bahkan terkadang cukup mencuci muka saja, nggak usah mandi.

“Iya, Opung.” Saya segera bangun mengambil parka lalu mengancingkannya.

Yang lain belum bangun, masih tertidur pulas di ruang tamu. 

Ruang tamu menjadi kamar kami, saya dan kedua teman, selama 10 hari di Balige.

Tak seperti biasanya, pagi ini saya terbangun sebelum alarm berbunyi, terduduk sembari melamun. 

Angin yang masuk dari sela-sela jendela, membekukan kaki, terjaga dibuatnya. Berpikir selimut saja cukup tadi malam, nggak usah pakai kaos kaki.

Saya salah! Kaki ini kremet-kremet terkena dingin. 

Melihat saya satu-satunya yang telah bangun, Opung mengajak untuk membeli gas.

Hari masih gelap, jalanan kampung sepi, hanya beberapa anjing yang menyalak melihat kami. 

Opung dengan sigap berjalan, melewati pematang sawah sembari sambil membawa tabung gas.

Saya tahu, tabung gas itu tidaklah ringan!

Sawah di depan Rumah Opung
Opung, yakni panggilan untuk nenek di suku Batak. Opung adalah nenek dari teman saya, Reno, yang saya tumpangi rumahnya. 

Saya datang ke Balige untuk menjelajahi kota ini. 

Di usianya yang memasuki kepala enam, Opung masih terlihat sangat bugar dan aktif. Dirinya memilih tinggal sendiri di Kota Balige, setelah sekian lama menetap di Jakarta. 

“Di sini tenang, nyaman dan dingin”, katanya.

Setelah 10 hari berada di kota ini, saya tahu apa yang dimaksud Opung. Dinginnya cuaca Balige luluh dengan kehangatan orang-orangnya serta keindahan tanah Batak ini.

Balige adalah kota kecil berada di pinggiran Danau toba, dipagari oleh Bukit Barisan. Yang merupakan ibukota Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara. 

Tak disangka, saya bisa mengunjungi Balige, sebuah kota yang selalu menjadi plesetan semasa sekolah dulu.

“Mau ke Bali.” “Bali mana, Balige! Atau “Ke Bali , yuk?” “Hah, Bali? Balige!” 

Jadi setiap penyebutan Bali akan ditimpal dengan Balige. Karena saat itu, jarak Balige lebih dekat dibandingkan dengan Bali. 

Saya menghabiskan masa sekolah di kota kecil ujung Sumatera Utara, Pangkalan Brandan, tempat lahirnya Ariel Noah. Informasi tidak penting!

Di penghujung tahun 2017, akhirnya saya menginjakkan kaki ke Balige, tanpa ada niat sama sekali terlintas mengunjunginya.

Untuk menuju Balige sekarang, tidak harus perjalanan darat dari kota Medan, karena Balige sudah punya bandara sendiri yaitu Bandara Silangit. 

Bandara Silangit semakin memudahkan wisatawan yang ingin berlibur ke Danau Toba.

Kalau ditanya ada apa di Balige. Banyak yang bisa dikunjungi jika berada di Balige.

Keindahan danau terbesar di Indonesia, bisa dilihat dari bibir Puncak Tara Bunga. 

Letusan gunung dahsyat berpuluh ribu tahun lalu itu menghasilkan kaldera yang berubah menjadi danau yang memesona.

Danau Toba dari Bukit Tarabunga
Selain dari atas bukit, Danau Toba juga bisa dinikmati dari tepian pantai. Kalau biasanya pantai airnya asin. 

Pantai Lumban Bumbul yang terletak tak jauh dari pusat Kota Balige ini adalah pantai air tawar. 

Berada di pinggiran Danau Toba dengan pasir putih landai. Pulau Samosir terlihat dari pantai ini.



Yang saya suka, selama saya di Balige adalah pasarnya. Hari Jumat pagi, saya main ke Pasar Balige. 

Pasar Balige disebut Onan Balerong, karena berbentuk rumah adat Batak Balerong, dengan lukisan gorga terukir di atasnya. 

Dibangun oleh Belanda pada tahun 1936. Pasar besar di Balige diadakan setiap hari Jumat. Pasar besar diadakan setiap hari di tempat berbeda di Kabupaten Samosir.

Terlihat beberapa orang tengah sibuk mengecat ulang ukiran yang terdapat di atas atap. 

Ternyata mereka sedang berbenah, sebentar lagi akan diselenggarakan Festival Danau Toba. Dan tahun ini Kota Balige menjadi tuan rumah.

“Kita ke pelabuhan, biasanya sekarang ramai yang turun”, sahut Opung. Onan Balerong memang tak terlihat terlalu ramai pagi hari itu. 

Di dekat pasar ada pelabuhan, di situlah geliat pasar tampak.

Kapal motor berukuran sedang, menepi di bibir pelabuhan menurunkan penumpang sekaligus barang dagangan. Para pedagang tersebut berasal dari Pulau Samosir. 

Pulau yang terletak di tengah-tengah Danau Toba. Hari Jumat adalah hari mereka untuk menyambangi Balige. Istilahnya maronan yaitu pergi ke pasar.





Pedagang membawa segala macam hasil bumi, selain menjualnya mereka juga barter, saling tukar bila merasa cocok. 

Segala macam sayur-mayur, buah-buahan hingga perlengkapan rumah tangga ada di pasar ini. 

Aktivitas ini akan berlangsung sampai sore hari. Yang memikat adalah para perempuan memakai ikat kepala khas suku Batak. 

Mereka terlihat menarik. Saya benar-benar menyukai suasana pasar di Balige.



Selain hasil pertanian, ulos, kain tenun khas Batak, banyak dijumpai di pasar. Kain ulos ini biasanya dijadikan sebagai oleh-oleh bagi wisatawan.



Tapi membeli ulos, saya memilih Kopi Sidikalang untuk buah tangan. Harum bau kopi menguar, mengusik penciuman saya. 

Di pinggir jalan pasar terlihat pasangan sedang sibuk menggiling kopi dengan mesin sederhana.




Pemandangan ini memincut kedua indera saya sekaligus. Kopi Sidikalang terkenal dengan kenikmatannya. 

Karakteristik kopi yang kuat, membuat Kopi Sidikalang selalu disukai. Saya pun tak ketinggalan langsung minta dibungkus.



Selama 10 harı di Balige, banyak yang saya lihat, rasa, dan dengar. Hari terakhir saya di Balige, teman Opung berulang tahun, saya turut diundang. 

Seekor babi masih berbentuk utuh terhidang di atas meja. Setelah pendeta memanjakan doa, acara makan pun dimulai. 

Opung menyodorkan nasi kotak ke saya. “Jangan takut, yang itu halal kok”, ujar teman Opung yang berulang tahun ke saya. Saya tersenyum mendengar guraiannya.

Balige terkenal dengan kota yang memiliki tingkat toleransi tinggi. Meski didiami mayoritas Suku Batak dengan menganut agama Kristen, masyarakat Balige sangat menjunjung perbedaan. Saya merasakan sendiri kehangatan itu.

Semakin banyak berjalan saya semakin sadar. Banyak orang baik dan tulus di dunia ini. Saya tidak merasa tersisih sedikit pun di Balige. 

Sebagai minoritas saya diperlakukan dengan sangat baik, dihargai dan dihormati. 

Dan saya cukup tahu, untuk membedakan yang pura-pura dan tulus. Hal-hal inilah yang membuat saya selalu berani traveling. Karena orang baik itu ada di mana-mana.

Saya bersyukur. Kita semua harus bersyukur.

Mungkin dahulu kita semua adalah orang-orang baik. Sehingga di kehidupan sekarang oleh Tuhan,  ditempatkan di negeri yang begitu indahnya. 

Kecantikan yang tak pernah cukup diceritakan. Tak pernah ada habisnya.

Saya menemukan sekeping kecantikan Indonesia itu di Balige. Cantik yang selalu digaungkan semua orang. Tak hanya di luar tapi juga di dalam.



Pemandangan dari Teras Rumah Opung

You Might Also Like

0 komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Subscribe