Melihat Biorock di Desa Pemuteran

00.41.00

Kaki saya menginjak pasir hitam di bibir pantai. Berbeda dengan pantai di Bali lainnya, kali ini pasir berwarna hitam mengkilap. Saya dan tim KitaIna berada di Desa Pemuteran. Sebuah desa wisata yang terletak di antara Gilimanuk-Sisingamaraja.
Kami akan snorkeling menuju ke tengah. Saat itu arus cukup tenang dan keadaan di sekitar pantai sepi. Pantai di Pemuteran memang tidak berombak, jadi tidak bisa digunakan untuk bermain selancar seperti di Kuta.


Terlihat beberapa pondok-pondok kecil homestay milik penduduk setempat untuk menginap. Banyak yang datang untuk meditasi di sini. Desa Pemuteran yang jauh dari hiruk pikuk keramaian dan gemerlap menjadi pilihan untuk menenangkan diri sesaat.
Saya pun segera menaiki jukung bersama yang lain. Kiri-kanan terlihat bukit-bukit hijau. Waktu itu masuk bulan November musim hujan, bukit subur menghijau.

Pemuteran terkenal dengan teknologi Biorock, yaitu sebuah cara restorasi terumbu karang dengan listrik. Dahulu para nelayan di sini menangkap ikan dengan cara yang tidak baik, yaitu dengan bom. Hal ini membuat terumbu karang di sekitar rusak dan mati.
Ekosistem bawah laut terganggu, ikan-ikan menghilang. Membuat desa ini hilang mata pencahariannya dan menjadi desa miskin.
Di belahan benua seberang, ada dua orang inisiator teknologi Biorock, Wolf Hisbert dan Thomas J. Gureau yang mempunyai misi untuk mengembalikan terumbu karang yang rusak di berbagai tempat. Dan sampailah mereka ke Bali Utara, lalu dipertemukan dengan I Gusti Agung Prana.
I Gusti Agung Prana, pendiri Komunitas Karang Lestari merupakan sosok penting pada perubahan Desa Pemuteran. Beliaulah yang menyadari kerusakan lingkungan di Desa Pemuteran dan mengajak masyarakat setempat untuk berbenah sehingga seperti sekarang ini.
Tak perlu memakan waktu lama, kapal pun berhenti. Kami bersiap-siap untuk melihat keindahan bawah laut Pemuteran.
Di dasar saya bisa langsung bisa melihat kerangka-kerangka besi yang ditumbuhi terumbu karang di sekitarnya. Dan terlihat indah dengan berbagai bentuk. Ikan-ikan bersembunyi di antara terumbu karang.
www.setapakkecil.com
Foto oleh:  (setapakkecil)
Biorock di Pemuteran adalah Biorock terbesar di dunia. Ada sekitar ratusan rumpon (rumah ikan buatan) tempat menempelkan terumbu karang yang ditanam. Tak hanya itu juga ada beberapa arca dan patung khas bali yang ditenggelamkan ke dasar laut.
www.biorock.org
Bli Made guide yang menemani menjelaskan, semua arca akan terlihat jelas apabila kita diving, karena kedalaman bawah laut tidak bisa terlihat hanya dengan snorkeling.
Patung Arca (foto oleh: Eunjae Im)
Terumbu karang di sini tumbuh dengan subur dengan bantuan listrik bertegangan rendah. Listrik yang dipakai bersumber dari tenaga matahari atau angin oleh masyarakat sekitar. Dengan bantuan aliran listrik terumbu karang tumbuh lebih cepat 6 kali lipat dari pertumbuhan biasa. Hal ini membuat ekosistem di bawah laut Pemuteran berangsur membaik.
Pola struktur besi yang berbentuk beraneka macam serta dipenuhi dengan terumbu karang menjadi sesuatu yang menakjubkan. Tak salah bila Lonely Planet menempatkan Pemuteran Bali, di posisi 7 besar untuk kategori Top 10 Lonely Planet Terbaik Asia 2016.
Strukrur Biorock Pemuteran (foto oleh: Eunjae)
Setelah puas snorkeling kami mampir ke Pulau Gosong. Pulau gosong ini hanya timbul bila air sedang surut. Sebenarnya Pulau Gosong ini adalah gundukan dari kumpulan serpihan karang-karang bewarna putih. Disarankan untuk memakai alas kaki bila ingin menjejak di Pulau Gosong, karena karang yang tajam bisa melukai. Pulau Gosong adalah spot terbaik untuk berfoto.

Pulau Gosong
Desa Pemuteran bisa berubah seperti sekarang ini juga karena kesadaran dan kemauan penduduk sekitar. Mereka bahu-membahu untuk merubah desa menjadi lebih baik sehingga perekonomian membaik sehingga teknologi Biorock berhasil diterapkan. Desa Pemuteran adalah ikon pembangunan pariwisata berkelanjutan.
Dan saya berbahagia bisa melihatnya secara langsung Biorock terbesar di dunia. Tak jauh-jauh dia ada di negeri kita sendiri. Di Desa Pemuteran, Bali, Indonesia.

You Might Also Like

0 komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Subscribe