L

07.29.00



“Hello”

“Hello” My voice cracked

“Miss Dea?”

Mhhhm..” I rubbed my eyes. Who is the freak calling me at the dawn. I really hate when something pulls me out of my bed. “Who's calling?”

“London!”

“LONDON?” I sat up straightly on my bed.
“Yes. I am London. I want to invite you to meet me, for a date.”

“Meet you…Me? A date?” I stuttered. I couldn't hide my astonishment.

“Yes meet me, a date for a couple of days. But before, you must give the compelling reason why  you are the one who deserves it ?”

“Reason?” Oh God, it is still early in the morning, my brain isn’t working yet.  Mhhm I..I am.."   *daydreaming*

*----------------------------*

Semasa jaman SD, saya suka banget baca buku karangannya Enid Blyton. Bersyukur walaupun bukan tinggal di kota besar tapi di sebuah kota kecil, perpustakaan di sekolah punya koleksi bukunya Enid Blyton. Yah, walaupun nggak lengkap lumayanlah daripada lumanyun.  

Beberapa yang saya ingat dan baca itu seperti Lima Sekawan, Pasukan Mau Tahu, Sapta Siaga, Malory Towers, St Claire. Diantara semuanya, Lima Sekawan adalah buku serial yang paling berkesan. 

Lima sekawanlah yang membuat saya ngayal nggak jelas sebelum tidur. Berharap berubah menjadi enam sekawan. Julian, Dick, George, Anne, Timmy nambah temannya satu saya, Dea.  

Saya jatuh cinta dengan mereka dan petualangannya. Setiap mereka ngumpul ada aja kejadian. Beda kalo di sini, tiap ngumpul-ngumpul ada aja yang nyinyir (bukan, bukan kamu!).  

Nah, hal yang paling saya ingat dari semua karangan Enid Blyton adalah kebiasaan minum teh. Mereka suka ngumpul sore-sore ngundang teman minum teh sambil makan kue. 

Waktu itu saya berpikir, kenapa saya nggak pernah diundang minum teh ya, sama teman atau di rumah kenapa Mama nggak nyediain teh dan kue tiap sorenya.  

Kalau mau minum teh ya minum aja, mau pagi, sore atau malam nggak ada waktu khusus. Saya cuma bisa bertanya-tanya dalam hati, saya terbiasa diam. Mulai agak gedean dikit saya nyari tahu dan baru nyadar kalo ternyata Enid Blyton itu adalah orang Inggris dan seorang wanita.  

Selama itu saya kirain dia adalah seorang pria karena namanya. Jadi, tradisi minum teh memang udah jadi budaya di Inggris sejak jaman dulu. tulah kenapa di setiap ceritanya Enid Blyton pasti ada minum teh.  

Apalagi buku ceritanya yang dibaca itu ternyata settingnya Inggris sekitaran tahun 40 - 70an. Semenjak saya tahu, saya punya impian dan angan-angan pengen ngerasain minum teh dan makan kue dimana tradisi ini berada.  

Saya ingin melakukan apa yang Dea kecil bayangkan dulu. Saya kasihan dengannya, yang cuma dia bisa lakukan hanyalah berkhayal menerka-nerka rasanya seperti apa. Saya ingin melakukannya apa yang tidak bisa dia lakukan dan bercerita kepadanya. 

Saya ingin merasakan angin menghempas wajah saya sembari minum teh dan makan kue di sore hari. Diantara sesapan teh, saya ingin menuliskan surat untuk Dea kecil. 

Bercerita minum teh di negeri indah, negeri Lima Sekawan, Inggris. Berharap dia juga bisa mencicipi apa yang saya rasakan.  

Dia pasti senang sekali. Pasti!

Di awal masuk kuliah dulu, saya wajib mengikuti kunjungan studi keluar kota. Sebenarnya kalau boleh dibilang, kunjungan studi ini adalah kata lain dari nyiksa-nyiksa lucu alias OSPEK. 

Saya nggak pernah masalah dengan OSPEK ini, selagi dalam taraf masih bisa ditoleransi. Katanya sih biar makin akrab, katanya! Sebagai Maba (mahasiswa baru) waktu itu diiya-iyain aja. 

Setelah dengan semua kegiatan OSPEK studi banding itu dan saya masih utuh, kita mampir ke sebuah tempat wisata, ke Bukittinggi. Waktu itu pertama kalinya saya ke sana, pertama kali juga saya ngeliat Jam Gadang.  

Jam yang digadang-gadangkan sebagai ikon dari Bukittinggi dengan angka empatnya yang misteri. Jam gadang ini, juga disebut sebagai Big Bennya versi Indonesia. 

Big Ben? Saya berbisik.  Hati saya berdesir saat itu.  Sekarang saya lagi ngeliat saudaranya Big Ben, Jam Gadang.  

Saya pernah baca kalau mesin pada Jam Gadang ini adalah mesin yang sama juga dipakai pada Big Ben. Itu berarti mereka sedarah kan?  Iya kan?  Itu berarti?  

Saya termenung menatap jam gadang. Mata saya nggak berkedip sama sekali.

“ Dea, heh Dea!”

“Eh?”

“Udah biasa aja mukanya. Dea aku tahu kamu bisa dengerin.  Aku cuma mau bilang tolong sampaikan salam buat saudara aku.  Aku itu, belum pernah sama sekali ketemu dengannya. Jadi cuma kamu satu-satunya yang bisa sampaikan salam ini.”

“Saudara? Saudara siapa?” tampang saya melongo.

“Saudaraku, Big Ben!”

“Big..Big Ben?” 

“Iya Big Ben. Walaupun kami nggak pernah ketemu, aku rindu sekali. Aku kepingin dia tahu kalo saudaranya di sini selalu memikirnya, merindukannya. Jauh bukan berarti tidak saling butuh. Cuma kamu yang bisa sampaikan ini, aku tahu kamu pasti ketemu dengannya.”

“Ketemu Big Ben?”

“Iya My big bro, Big Ben. Kamulah yang bisa menyampaikan salam rindu ini.  Itulah kenapa kita bisa berkomunikasi. Kamu adalah orangnya. Kamu, ingat cuma kamu!”

“Ta..tapi?” belum sempat saya menyelesaikan omongan, tangan saya ditarik oleh salah satu teman saya.  Dia bilang kalo saya ngelamun dari tadi.  

Entah saya mulai gila atau halusinasi tapi percakapan itu terus terngiang di kepala. Semenjak itu, saya sadar kalo kemungkinan besar itu adalah parselheart alias bahasa kalbu semacam parseltounge Harry Potter.  

Kalau Potter bisa ngomong dengan ular, saya bisa ngomong dengan jam gadang. Berarti saya nggak gila percakapan itu benar-benar terjadi. Nggak gila, saya masih waras! Iya waras! 

Tapi bukankah ketidakwarasan yang membuat saya tetap waras selama ini. Ah, sudahlah, apapun itu, apapun caranya, saya harus ke Inggris bertemu dengan Big Ben.  

Saya haruskan menyampaikan salam saudaranya, Jam Gadang. Saya udah berjanji, hanya saya yang bisa.

Jam Gadang pasti senang sekali. Pasti!

Di suatu pagi di hari Rabu, dimana saya tak perlu buru-buru karena di hari ini apapun akan menunggu. Saya asyik scrowling timeline twitter dan nggak sengaja baca salah satu twit, mengenai kuis “What city should you actually live in”.   

Saya pun penasaran dan ikutan. Hasilnya cukup bikin uwow.


Ya, I got London. Jadi London adalah kota yang cocok untuk saya tinggal. Plus diketerangannya ada foto Emma Watson, orang asli Inggris.  

Siapa sih yang nggak kenal sama Hermione ini. Kebetulan Emma dan saya lahir di bulan yang sama dan tanggal lahir kita cuma beda sehari. Itu berarti?  Itulah kenapa kita sebelas duabelas (krompyang!).  

Di samping sebelas duabelas itu, kuis ini kembali membuka semua impian, kenangan dan kejadian-kejadian yang mengarah ke kota ini. Kebetulan sekali.  

Eh tapi, kebetulan ini nggak cuma sekali tapi berkali-kali. Pernah ngerasain nggak kalau kita mikir sesuatu atau pengen sesuatu, dia bisa jadi dilihat dimana-mana.  

Di buku yang kamu baca, di televisi, tulisan di baju yang di pakai sama orang yang nggak dikenal saat lagi bete-betenya nunggu antrian, di lagu yang didengar, dan bahkan di bungkusan cabe rawit ketika mau masak mie instan di tengah malam buta dan masih banyak lainnya.  

Pokoknya dimana-mana! Kebetulan itu sebagai pertanda bagi saya. Kumpulan kebetulan-kebetulan lama kelamaan seperti bom waktu pasti akan meledak.  

Saya merasa ledakannya semakin dekat. Kesempatan itu mulai terendus baunya.  

Bau-baunya pasti seru sekali. Pasti!

Semakin bertambah usia kumpulan alasan itu seperti baju kotor, menumpuk. Yang pasti saya ingin membuktikan hasil kuis itu apakah saya benar cocok dan berjodoh dengan London.  

Walaupun pada akhirnya saya tidak menetap di hatinya. Saya cuma ingin bertemu, singgah sebentar bercumbu dengannya. One night stand?  No! Big No No!  

Saya termasuk orang yang tidak cepat puas, semalam bukan jawaban. Seven Nights Stand? Ya tujuh hari! Tujuh hari mungkin cukup untuk mengenal dan mewakili rasa. 

Tuhan menciptakan langit dan bumi dalam 7 hari. Dalam 7 hari saya nggak mungkin menciptakan langit dan bumi, saya bukan Tuhan!  

Tapi dalam 7 hari mungkin saya bisa menciptakan kepuasan dan kenangan. Menjemput impian di Negeri Lima Sekawan.  

Negeri yang menginvasi pikiran saya dengan cerita-ceritanya dari kecil sampai besar. Meninabobokan telinga saya dengan lagu-lagunya. Mencium bibir saya dengan bahasanya. 

Dan hal yang ingin saya lakukan adalah mata ini memeluk matanya secara langsung. Lalu bagaimana cara saya betemu dengannya. Saya juga tak tahu pasti.  

But I will find a way. I always do!  

*------------------------*

Miss Dea, are you still on the line?”

Oh yes I am!”  London’s voice makes me back into reality. How come I spaced out in the middle conversation. “Mhmmm my reason is mhhm..because I think..I think I am falling in love with you, really love you,”  I slapped my head. Dea, why do you give a cheesy reason, I whispered to myself!  But if you love someone you don’t need many specifics reasons, right?  You just fall in love.  Like when you say his name, it can make your heart beat faster.  No reason for all that. It is just because you are falling in love.

“ I’d love to hear that.”

“ So, can I meet you?”  My voice sounds desperate.  

“I am not decided yet. I will consider your reason.”

“Yeah, I will not force you to choose me. I know…I know I am not the only one who fall in love with you. But trust me, when I say I love someone. I really mean it! I am not the kind of person who falls quickly in and out of love.  It’s a hard thing for me.”

“I do believe in you.  No matter when, we will meet sooner or later. Please, always keep believing, okay?”

“yeah, sure!”

“Okay Dea, I wish you a pleasant day, good bye.”

“Bye L.” L?  Wow, Now I even have a nickname for London.  Sounds intimate.

I flipped my phone, a beam smile left on my face.  I am fully awake now. My stomach starts to grumble.  Oh, I am hungry but too lazy to move my ass.  

I grab a bag of crisp beside my bed. These snack are always in my room, supplies to my cravings. Once I start to eat it, I can’t stop. I just really love it. The taste is really good.  
I keep munching, without realising that the bag is empty now. A sigh of contentment goes loudly out of my mouth.  I lick my finger, I don’t want to stop eating.  

My eyes catch an interesting picture in the front side of the crisp’bag. A man with a big sombrero hat and a long black mustache. It looks funny. I stare at him intently. I am mumbling.

Hey Mister, can you take me there ?  L.




You Might Also Like

0 komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Subscribe