Dari Nol!

11.39.00

Semua berawal dari postingan sebelum ini, dimana saya ikut lomba ngeblog yang hadiahnya jalan-jalan ke kota berinisial L. Untung tak dapat diraih, nasi padang tak dapat ditolak. Saya dipastikan nggak menang. Tulisan saya jauh dari kata layak. 

Emang sih banyak banget yang bagus dan saya akui mereka memang lebih pantas buat menang. Saya bete ikhlas mungkin belum jodohnya ke sana. Mau pergi pake duit sendiri juga, duitnya belum ada. 

Duit darimana? Duit dari Hong Kong? Dikarenakan duitnya masih di Hong Kong, saya kepikiran buat liburan yang dekat-dekat aja, yang nggak ngeluarin duit banyak. 

Saya cobalah tanya salah satu teman, ada rencana mau jalan-jalan apa nggak dalam waktu dekat ini. Gayung pun bersambut, ternyata mereka ada rencana mau ke kota Sabang, 

Pulau Weh, pulau paling ujung Barat Indonesia. Pulau yang nama kotanya ada di salah satu lirik lagu nasional dan di lirik jingle mie instan kesukaan kita semua. Kebetulan saya belum pernah kesana. Saya pun langsung mengajukan diri untuk ikut.

Setelah melalui gonjang-ganjing pembatalan trip ini, ditambah pasang surut anggota yang mau ikut dan tanggal yang berganti-ganti. Akhirnya, dipastikan saya dan keempat teman lainnya tetap jalan. 

Pada hari H keberangkatan, sebenarnya saya sempat sedikit kuatir karena alasan cuaca, kabut asap. Entah kenapa kabut asap di kota ini udah kayak gebetan yang nggak bisa move on. Datang lagi, datang lagi ganggu! 

Sedikit agak panik kalo ternyata nantinya harus ditunda. Soalnya jadwal penerbangannya sore hari dan jam 9 malamnya sudah harus meringkuk manja di atas bus dari Medan menuju Banda Aceh. 

Tak dingaya tak disangka, si singa tetap melangkah pasti di tengah kepulan asap. Entah harus bersyukur atau ngeri karena ketika semua penerbangan delayed, kali ini si singa maju terus pantang lelet menerjang asap. 

Sepanjang penerbangan saya terus berdoa. 

Saya satu-satunya dari luar kota. Beberapa teman menunggu di Medan dan lainnya di Pangkalan Berandan. Bagi yang nggak tahu Pangkalan Berandan itu dimana, Pangkalan Berandan adalah kota tempat kelahirannya Ariel Noah (info sangat penting..ting!). 

Dan kota kecil itu walaupun nggak ada apa-apanya tapi pasti kepingin balik lagi ke sini. Ah, mungkin karena saya udah pernah minum air di sana.

Kita berangkat sekitar jam sepuluhan malam dari Medan, sampai di terminal Banda Aceh sekitar jam delapanan pagi. Di pagi itu kita pecah jadi dua tim. 

Tim mengeluarkan isi perut dan satu lagi tim mengisi perut. Saya bagian mana? Saya di bagian terkapar tak berdaya. Kita nggak bisa lama-lama di terminal bus ini karena kita harus ngejar penyeberangan dari Banda Aceh ke Pulau Weh jam 9 pagi.

Sesampai di pulai weh setelah menyebrang sekitar 50 menit. Waktu itu kita memilih untuk menyebrang dengan kapal cepat. 

Katanya kalau naik kapal lambat dan lagi beruntung, kita bisa melihat lumba-lumba ikut mengiringi perjalanan kita. Tapi sayangnya diwaktu pulang pun kita memilih untuk naik kapal cepat, jadi nggak punya kesempatan melihat lumba-lumba ini. 

Waktu pergi dan pulang cuaca sedikit berair, hujan selama menyebrang. Tapi untung selama di Pulau Weh cuacanya bersahabat, nggak hujan. Jadi kita tenang mau kemana-mana.

Di Pulau Weh kita menginap di daerah Sumur Tiga. Tepatnya di Santai Freddy, Sumur Tiga. Penginapan ini dimiliki oleh orang asing. Kita manggilnya Uncle Freddy. 

Bahkan mayoritas yang menginap di sini juga orang asing. Saya nggak tahu apa-apa, semua teman saya yang memilih. Saya cuma tinggal ikut.

Penginapannya langsung berhadapan dengan laut dan punya private beach sendiri.


Ini view dari kamar dan isi kamar kita.  Di dalamnya sederhana tapi cukup nyaman dan ada hot shower.  Awalnya kita kepingin rame –rame tapi sama Uncle Freddynya nggak dibolehin.  Jadi kita yang cewek-cewek bertiga tidur  di sini, yang cowok di kamar lain di pondok sebelah.  Kalau malam debur ombaknya kedengaran sangat jelas kayak suara hujan
 Percakapan sebelum tidur :
“De..
“Mhhm?
“Kalo ada tsunami, kita duluan yang pertama kali kena.”
- _____________-“


Sunrise Sumur Tiga
                                                                  
Nggak ke Sabang namanya kalau kita nggak pergi ke Tugu 0 Kilometer. Ke titik nolnya negeri ini.  

Untuk mencapai ke sana kita menyewa mobil.  Di kota Sabang ini nggak ada yang namanya publik transport jadi kita harus menyewa kendaraan.  Baik mobil maupun motor.  

Dan saya sempat bikin sertifikat waktu datang ke sini. Waktu itu bayar Rp 30.000,- Yah, sebagai kenang-kenangan kalau saya pernah ke sini.  

Nanti di sertifikatnya tertera nama dan pengunjung ke berapa. Walaupun perhitungannya sangat tidak akurat dan diragukan keabsahannya. Karena saya pernah dengar, bahkan dulu katanya ada 2 – 3 tempat yang bisa membuat sertifikat ini.




Dan bukan Dea namanya kalau nggak ada yang ketinggalan. Amplop berisi sertifikat saya dan teman, ketinggalan di penginapan.  

Padahal saya adalah orang terakhir yang mengecek kamar karena ponsel saya hampir kelupaan dibawa.  Saya balik lagi ke kamar mengambil ponsel dan memastikan sekali lagi nggak ada yang ketinggalan.

Tetep ternyata masih ada yang kececeran. Mungkin ini konspirasi. Mereka diam-diam pingin saya balik ke sini untuk mengambil yang tertinggal suatu saat nanti.

Kita snorkeling di pulau rubiah. Untuk ke Pulau Rubiah ini kita harus menyebrang dari pantai Iboih. Airnya jernih banget, airnya bewarna tosca. Untuk foto karang di bawah laut sama snorkeling semua adanya di teman saya.

Bahkan semua foto jalan-jalan ini semua berasal dari kamera ponsel teman saya. Saya minta dikirimkan dari mereka. Makanya hasilnya kurang maksimal. Cuma beberapa dari ponsel saya sendiri, yang  cuma pemandangan. Itu juga kurang.  

Saya malas bawa kamera. Aslinya lebih bagus. Semua foto di sini tidak mempresentasikan keindahannya dengan baik. Kalian harus  melihatnya sendiri.



Weh artinya pindah. Berarti Pulau Weh itu pulau yang telah berpindah. Saya diberi tahu langsung oleh orang Weh aslinya yaitu abang supir yang menemani kita keliling.  

Masa silam Pulau Weh ini menyatu dengan Banda Aceh dan karena proses alam yaitu meletusnya gunung berapi jadi terpisah oleh laut.  

Sedangkan Sabang sendiri, abang supirnya nggak tahu.  Karena menurut dia, dulu cuma disebut We saja.  Lalu abangnya menambahkan di Pulau Weh ini 99% aman. 

Ini terbukti kita bisa melihat di pinggir jalan atau di tempat makan. Motor sama kuncinya dibiarkan menggantung ditinggal. Nggak diambil apalagi dikunci.  

Bayangkan kalo ini terjadi di daerah kita. Jangankan begitu, udah dirantai, digembok masih bisa hilang! Apalagi ninggalin kunci. Ini dikarenakan hampir penduduk di sini saling kenal.  Kalau ada yang berbuat kriminal itu dipastikan pendatang dari luar.

Waktu berjalan-jalan di kiri kanan kadang kita bisa melihat bekas bunker Jepang. Dan sekarang sudah banyak ditimbun dengan tanah. Konon kata abang supir, sering ada anak-anak kecil iseng untuk masuk ke bunker ini.  

Tersesat dan kemudian habis napas lalu meninggal. Semenjak itu sebagian besar bunker ini ditimbun demi keamanan.  

Kita sempat mengunjungi bekas benteng Jepang yang terletak di atas bukit. Dari atas kita bisa melihat laut lepas. Dan ada pos pegintai serta meriamnya dan bunker menuju ke bawah.  Saya nggak sempat foto di sini karena agak suram.


Di aceh terkenal dengan kopinya dan kedai kopinya sudah tentu. Kedai kopi dijadikan tempat ngumpul-ngumpul atau nongkrong. Mau yang tua muda semua ngumpulnya di kedai kopilah pokoknya.  

Nah, di kota Sabang terkenal dengan sangernya. Yang nggak tau sanger itu apa, sanger itu semacam kopi susu. Kopi yang dikasi susu itulah yang saya icip. 

Nanti kalo mau pesan sanger ada pilihannya mau yang dingin apa panas.Sebagai bukan penggemar kopi saya kurang tertarik minum sanger ini.  

Teman saya bolak-balik minum sanger ini kadang dingin kadang yang panas.  Ini dikarenakan kita ke kedai kopi buat nyari makan. Kota Sabang ini kota kecil jadi nggak banyak pilihan ujung-ujungnya balik ke kedai kopi.

Selama mutar-mutar kota Sabang dan keluar masuk kedai kopinya saya nyadar satu hal.  Saya nggak pernah atau jarang sekali ngeliat para bule berkeliaran di kotanya atau kedai kopi.  

Padahal waktu di penyebrangan bahkan di penginapan isinya hampir mereka semua. Saya bertanya-tanya mereka mainnya dimana ya?  

Memang terkadang para turis bule ini lebih tahu dan memilih tempat yang bahkan turis lokal sama sekali nggak tahu. Nggak main di tempat mainstream.

Kita sempat mengunjungi Sabang Fair. Di sini banyak food street tapi teman saya menyebutnya jajanan reportase.  

Dan untungnya kita baik-baik saja setelah hampir mencoba semua apa yang dijual. Karena penginapan tidak terlalu jauh dengan kota.

Selama di sini kita bisa keluar jalan-jalan naik motor yang disewa dari penginapan. Main pantai yang tinggal lima langkah keluar dari kamar sepuasnya. Pokoknya menyenangkan.

Terlepas dari semuanya, saya banyak belajar dari perjalanan kali ini. Sebenarnya dalam perjalanan dari Medan ke Banda Aceh, saya mabuk darat.  

Dan dipastikan rasanya beda dengan dimabuk asmara! Itulah kenapa saya nggak suka perjalanan darat yang cukup lumayan lama.  

Di atas bus itu perasaaan saya udah nggak karuan, karena ini salah satu mabuk darat yang terdasyat yang pernah saya alami. Terdahsyat bukan terinbox.  

Muntah yang nggak berhenti-henti sampai yang dikeluarkan udah nggak ada lagi, bisa dibayangkan. Dan nggak bisa tidur sama sekali!

Pikiran saya udah nggak fokus. Saya mulai kepikiran yang nggak-nggak.  

Suara-suara di kepala ini udah sahut-sahutan. “Dea balik yuk!  Dea kalo nggak pergi, pasti lagi bobok enak di kamar. Dea ngapain sih pergi!”.  

Rasanya pengen turun langsung pulang! Saya udah kepikiran untuk beli tiket pesawat dari Aceh Ke Medan selepas dari Sabang nanti. Karena nggak kuat harus mengalami ini lagi pas balik ke Medan nanti, ngebayanginnya aja bikin tambah mual.  

Bilang saya lebay tapi kalau nggak pernah ngerasa muntah-muntah nggak berhenti itu kayak apa, no offense! 

Dan saya iri seirih-irihnya dengan teman yang duduk di sebelah saya. Dengan damainya tidur terus sepanjang jalan, sedangkan saya mati-matian disebelahnya untuk tetap waras karena diombang-ambing muntah. 


Terus dia cuma bangun sebentar karena lapar, udah makan terus tidur lagi. Bangke nggak tuh!   

Makan ayam KFC, iya ayam KFC. Kita bawa cemilan ayam KFC untuk menemani perjalanan selama di bus. Saya dengki sama badannya, kenapa saya nggak bisa gitu nggak nyusahin pemiliknya.

Tapi ketika saya sudah sampai tujuan melihat, mendengar, merasakan dan menjejak tempatnya. Saya nggak menyesal sama sekali.  Saya malah bersyukur.  

Coba saja saya memilih berada di zona nyaman, ngedon di kamar ketimbang pergi trip kali ini saya nggak akan melihat apa-apa. Persoalan muntah nggak jadi masalah lagi.  

Walaupun saya harus melewati muntah lagi untuk pergi kesini, saya tetap mau menjalaninya.  Karena saya sudah tahu apa yang akan saya alami. Ketidaktahuan sebelumnyalah membuat saya pesimis pengin pulang. 

Seringkali ketidaktahuan dalam hidup ini, membuat kita menyerah di tengah-tengah. Saya belajar bertahan dalam hal sepele. Di ujung sana ada hal indah.

Life is unpredictable. Indeed!  Ada banyak kejadian yang diluar perkiraan yang terjadi selama perjalanan ini.

Diperjalanan pulang ada kabar gembira bukan..bukan kabar gembira kalau sekarang buah manggis ada ekstraknya.  Itu so last year udah nggak kekinian.  

Tapi kabar gembiranya adalah SAYA SAMA SEKALI NGGAK MUNTAH! *capslock jebol* Hurrray!  

Biasa aja ya, eh tapi bagi saya menggembirakan bangetlah ini. Padahal di perjalanan pulang, waktu yang ditempuh sangat ngaret. Yang waktu pergi kita cuma butuh 10 jam, pas pulang 16 jam. Iya beda 6 saja.  

Bayangkan kalo saya masih muntah, 6 jam ini akan sangat menyiksa dan berasa sewindu. Dan saya santai makan es krim di atas bus. Kalo  lagi muntah, beugh jangankan nafsu makan.  Mau napas aja udah nggak nafsu. 

Padahal saya juga udah punya planning mau ngajak dinner bareng teman-teman lain di Medan yang nggak bisa ikut. Soalnya perkiraan kita paling lama paling lama loh ini, jam 8 malam udah nyampe di Medan.  

Tapi semua meleset, kita nyampe di tengah semriwi angin malam kota Medan jam 2 pagi.  Terbekatilah yang namanya becak motor alias bentor di kota medan yang selalu siaga 24 jam, dan selalu ada dimanapun anda berada. Lumayanlah daripada naik taksi kan bisa hemat. 

Setelah itu di tengah malam-malam buta, harus manjat pagar di sebuah wisma lab salah satu jurusan di kampus USU.  

Teman saya ini salah satu mantan alumni jurusan ini. Karena nyampe tengah malam, temen temennya saya yang jaga udah ketiduran. Diteleponin nggak diangkat. Yah namanya juga mau nginap gratis, yah gitu deh.  

Muka lusuh mata beler bawa-bawa ransel plus dus oleh-oleh di depan pagar. Nggak taulah disangka maling apa pengungsi. Untung nggak ketangkep satpam yang lagi patroli. 

Dan salah satu bukti life is upredictable lainnya adalah. Teman sebangku saya, yang saya iri setengah mati waktu saya berjibaku dengan muntah.  

Dia jobless. Iya dia dipecat gara-gara perjalanan ini. Sebenarnya dia nggak dapat cuti, tapi karena kita udah sepakat dari awal.  Kita semua maksa supaya tetap ikut jalan.  

Dan dikarenakan korban sosial media. Kalo kamu buka path lalu langsung muncul kamu dimana kan “arrived in Banda Aceh” misalnya (nggak ngerti juga saya nggak main path. Main layangan). Dan begitulah langsung masuk pesan “XXXX Senin tolong balikkan seragam”.

Saya nggak iri lagi sama dia. Saya kasihan. Jangan pernah iri sama orang lain karena kita nggak pernah tau masalah yang dihadapinya.  

Yah namanya hidup, nggak ada yang tau. Nggak bisa ditebak. Nggak semua sesuai rencana kita.  Kita udah susun semuanya dan mengira semua akan berjalan lancar dengan semua yang udah kita prediksi. Tapi sekali lagi life is Upredictable.  

Dan apa yang harus kita lalukan? Yang perlu kita lakuin adalah adaptasi.

Ketika yang kita mau nggak sesuai harapan atau perkiraan adalah beradaptasi. Saya nggak pernah mengira kalo perjalanan pulang bisa ngaret selama itu.  

Yang saya lalukan adalah saya beradaptasi dengan perjalanan yang lama. Saya beradaptasi dengan keadaan. Saya menerima dengan hati senang. Mungkin karena saya senang, saya nggak muntah lagi. 

Saya beradaptasi kalo mau liat hal yang indah ada prosesnya. Siapa yang nyangka juga nggak bisa ketemu teman dan nyampe pagi buta. Manjat pagar pulak. Nggak saya nggak pernah kepikiran.  Tapi saya menyesuaikan diri semua dibawa senang ajalah.

Teman saya jobless. Dia sedih. Yang dia lalukan adalah beradaptasi. Adaptasi dengan statusnya sekarang dan mulai mencari perkerjaan yang baru. 

Dan banyak hal-hal lain dari yang kecil sampai besar yang terjadi dalam hidup kita ini nggak sesuai rencana, nggak sesuai angan, nggak sesuai perkiraan, nggak sesuai harapan impian apapunlah itu, you name it! Dan balik-balik lagi semua pasti udah pernah dengar kalimat sakti ini

“Manusia cuma bisa berencana tapi Tuhan yang menentukan”

Memang itu kalimat sangat klise, tapi memang benar adanya. Hal terklise adalah hal terjujur yang pernah ada.  


Jalan-jalan saya ke titik nol ini sebenarnya adalah manifestasi dari keinginan yang nggak terkabul ke titik lain. Perjalanan ke titik nol ini, membawa saya untuk berpikir. Hidup ini misteri.  

Saya suka cerita misteri. Suka nebak-nebak cerita akhirnya kayak apa. Seperti saya, mungkin orang lain di dunia ini juga suka menebak-nebak cerita hidupnya berakhir seperti apa. 

Tebakan saya selalu salah dan suka nggak tahan untuk ngintip halaman terakhir, untuk tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dan hidup bukan buku yang kalo nggak tahan karena penasaran,  bisa kita intip ujungnya kayak apa.  Kita nggak pernah tahu. 

Ketidaktahuanlah yang mungkin membuat kita terus berjalan, bertanya, berusaha dan menerka-nerka akan apa.  

Mungkin kalo kita tahu akan seperti apa, kita akan berhenti berjalan dan bertanya. Tuhan membiarkan ketidaktahuan dalam otak kita supaya kita tetap waras dan mau jalan. 

Mungkin. Mana yang lebih mengerikan ketidakwarasan karena nggak tahu atau ketidakwarasan karena tahu?

Saya lebih milih nggak tahu. Karena saya takut kalau saya tahu, saya berhenti. 

Apapun itu saya cuma berusaha yakin dan percaya diujung sana ada hal indah. Kalau nggak indah berarti bukan ujungnya. Walaupun ujungnya mungkin bukan di dunia.

Betewe perjalanan ke Pulau Weh dilakukan bulan September tahun lalu. Udah dari kemarin ditulis tapi nggak pernah selesai. Rencana sehabis pulang langsung posting tahunya lewat.   

Yaudah, sekalian tahun baru aja, lewat. Dan sekarang malah udah hampir pertengahan tahun. Nggak ngerti malasnya itu kayak apa. Keburu madingnya udah tutup bukan terbit lagi.  Basinya udah kelewatan!

Tapi ada yang bilang lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali bukan?  

Ya sudah, walaupun ini sudah hampir masuk pertengahan tahun. Saya ingin disetiap perjalanan bisa memberi pembelajaran. 

Dari titik nol saya belajar sabar. Dari titik nol saya belajar bertahan. Dari titik nol saya belajar menyesuaikan. Dari titik nol saya belajar di ujung itu indah. 

Dari titik nol saya belajar melangkah. Dari Nol!





You Might Also Like

3 komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Subscribe