Menjemput Antonim

05.20.00

Note : Separuh tulisan ini dibuat waktu masih magang jadi tukang jaga gudang di suatu tempat setahun yang lalu.  Jadi harap maklum atasnya agak berbau (sok) ngantor :)
 


Akhirnya saya punya waktu lagi buat nulis. Oke baiklah, bukan punya waktu tapi nggak ada kerjaan dan nggak tahu mau ngapain di kantorAkhir-akhir ini kerjaan saya emang nggak banyak. Lebih banyak bengongnya, ngelamunnya terus tiba-tiba keluar busa dari mulut, nggak dink! 

Bilang saya makan gaji buta? Oh, I don’t care, yang pasti saya udah menuntaskan semua bagian saya. Dikarenakan nggak ada kerjaan. Saya jadi ingat punya utang tulisan.  

Secara bersamaan entah kebetulan, dua orang meminta tulisan yang sama yaitu “Arti Hidup”. Mungkin karena sebegitu kompleksnya sehingga semua nanyain. Dan saya cuma orang gila yang disuruh bikin tulisan tentang itu, secara saya juga masih terseok-seok  berjuang di hidup ini.

Termasuk berjuang jadi bagian hidup kamu. E apa sodara-sodara? Iya betul, eaaaaa.... 

Sebelumnya saya sempat terlibat percakapan dengan salah satu teman. Dia bilang gini, sebenarnya untuk apa sih kita hidup

Kita semua terjebak  di suatu siklus atau sistem katanya. Sistemnya saya coba jabarkan dengan pertanyaan di bawah ini.

Pertanyaan itu udah kayak jadi patokan dalam hidup ini. Semuanya mau nggak mau akan ngelewatinnya. Saya diam berpikir waktu itu. Apa memang tujuan hidup untuk itu aja?

Saya bertanya-tanya. Terus ngapain donk saya di dunia ini? Kalau dunia nggak seru, nggak kece cuma monoton gini dan harus terjebak dengan sistem itu.

Saya nggak yakin kalo hidup adalah sebuah sistem. Saya terus berpikir sebanyak udara yang saya hirup dan akhirnya saya menyimpulkan kalau hidup itu, mhm,,hidup itu ya, hidup!

Baiklah bukan jawaban memang! Kalau kamu masih maaf kentut berarti kamu hidup. Kalau kamu bisa mencium bau kentut kamu hidup. Kalau kamu bisa melihat wujud si kentut itu kasat mata baru dipertanyakan masih hidup apa nggak!

Arti hidup itu sebenarnya klise hampir sama dengan arti sukses yang sering dibicarakan orang-orang di luaran sana. Bukan hasil tapi PROSES. Hidup bukan tujuan tapi proses. Jadi stop bingung sama arti hidup! 

Intinya gini, kita selalu bertanya apa sih sebenarnya tujuan kita hidup? Untuk apa? Ya, jawabannya ya untuk melewati semua proses itu. Bukan sistem itu tapi ‘proses’nya. Jadi sebenarnya arti hidup itu :
  • waktu kamu ngeliat kucing peliharaan kamu ngelahirin! Itulah arti hidup
  • waktu kamu ngeliat orang tua kamu tersenyum di wisuda kamu! Itulah arti hidup
  • waktu kamu melihat cinta di mata pasangan kamu! Itulah arti hidup
  • waktu kamu melihat hujan di balik jendela! Itulah arti hidup
  • waktu kamu memeluk sahabat kamu!itulah arti hidup
  • waktu kamu mencium aroma kopi dari cangkir di setiap pagi dan begitu banyak hal lainnya. (Setiap orang pasti beda versi)

Arti itu ya, sesederhana itu. Dia nggak di mana-mana dia di sekeliling kita. Itulah alasan kita ada. Dia adalah kumpulan-kumpulan dari beberapa hal yang kita anggap sepele/kecil disitu arti itu berada.

Tapi kenapa saya terlihat begitu egois? Kenapa semua yang saya tulis hampir sebagian besar melihat. Terus gimana dengan sebagian orang maaf yang nggak bisa ngeliat atau nggak memiliki indera yang lengkap. Apa karena mereka tak mampu melihat atau tidak lengkap jadi mereka nggak pernah tahu arti hidup itu apa.  

Saya nggak bermaksud apa-apa. Saya cuma menulis apa yang di posisi saya. Tapi saya sedikit tau ketika indera kita yang satu tidak berfungsi dengan baik makanya indera yang lainnya akan bekerja berkali lipat. Dan bukan berarti mereka tak punya arti hidup.  

Arti hidup juga bukan cuman sekedar melihat dia menjangkau segala aspek yg bisa kita lakukan. Dia berbentuk dalam ribuan hal dan cara.

Banyak orang yang mencari arti hidup. Bagi saya, saya lebih memilih kata ‘menjemput’ daripada mencari. Karena garis hidup kita udah digariskan dari awal oleh-Nya, jadi nggak perlu dicari karena semua udah ada.

Sekarang tinggal gimana kita menjemputnya, dengan cara apa dan  bagaimana. Atau  memilih tidak melakukan apa-apa. diam menunggu sampai pada akhirnya dijemput?

Saya memilih untuk menjadi orang yang menjemput arti hidup itu. Saya yakin arti itu ada dimana-mana. Kita bisa mengalami prosesnya dari berbagai macam rupa dari bangsa, ras dan bahasa yang berbeda. Bahkan dari kalangan tersudut sampai kalangan bermobil yahud sekalipun!

Maka dari itu saya ingin melihat, mendengar dan menjejak lebih banyak lagi. Saya ingin menjemput kepingan-kepingan hidup itu. Saya tidak mau diam menunggu. Saya ingin menjemputnya dan disambut.

Dan tahukah bahwa arti hidup dalam prosesnya itu  antonim. Untuk sempurna kita harus merasakan kedua sisi tersebut. Kita nggak bisa hanya merasakan sebelahnya saja.

Nggak akan ada bahagia kalo nggak ada sedih. Nggak akan ada kata suka, kalo nggak ada benci. Ada laki-laki ada perempuan. Tinggi pendek, kurus gendut dan seterusnya. Bisa panjang kalo menuliskan semua antonim di semesta ini. Antonim itu saling melengkapi.

Apa kamu yakin dan bisa menjamin kalau kita terus-terusan merasakan bahagia tanpa pernah merasakan susah, kita akan bahagia?

Apa kamu yakin kalau semua orang tersenyum tanpa pernah merasakan tangis, senyum itu masih berharga?

Apa kamu yakin kalo semua orang itu cakep, Nicholas Saputra masih terlihat begitu charming-nya?

Saya nggak yakin. Maka dari itu antonim bekerja dalam semesta ini. Dia menyeimbangkan kehidupan kita, tanpa kita pernah benar-benar sadar. Malam ada untuk menidurkan. Pagi ada untuk membangunkan kita.  Lihat malam-pagi, tidur-bangun antonim mana lagi yang kita pungkiri?  

Jadi jika kita sekarang ini berada di posisi yang menurut kita antonimnya negatif. Jangan sedih! Lawannya si positif akan segera datang. Tentu aja dalam menjalani proses arti hidup ini kita sering tepuruk.

Tapi yah, seenggak-enggak kecenya situasi yang lagi kita hadapi dalam hidup ini, setidaknya nggak usah kebanyakan ngeluh. Jadiin aja becandaan, menghibur diri sendiri.

Daripada maki-maki kan ya, maki-maki itu nggak seksi. Cukup percaya aja bahwa antonimnya alias kebalikannya bakalan memeluk kita erat-erat. Nangis ya boleh, tapi kalo saya cukup Tuhan aja yang tahu saya nangis orang lain nggak perlu tahu. Terasa lebih ekslusif.

Semua harapan kita di dunia ini memang nggak  semua kesampean. Banyak yang nggak sesuai dengan apa yang kita mau. Itu kayak nggak semua cinta itu berbalas. Kadang orang yang kita suka belum tentu juga suka. Ada yang suka, kitanya nggak suka. 

Hanya pada orang yang tepatlah cinta  saling bertepuk. Begitu juga hidup, kita nggak selalu dikasih apa yang kita mau. Dia kadang tak berjodoh dengan keinginan. Patah hati? Patah arang? Wajar!


Tapi terkadang kita selalu ngeliat orang yang selalu dapetin yang dia mau tanpa susah payah. Hidupnya aman, tenang-tenang aja. Kita sih ngeliatnya gitu. Semua nyebut beruntung!

Tapi saya termasuk orang yang tidak percaya dengan keberuntungan. Kita nggak pernah benar-benar tau apa yang dia lakukan. Itu bukan beruntung, tanpa kita tahu mungkin aja dia melakukan usaha untuk mendapatkannya.

Yang kita tahu cuma hasil yang dia dapat. Lalu dengan cepatnya kita bilang dia beruntung. Orang yang beruntung itu adalah orang yang melakukan usaha lebih dari kita di hidup ini! Kalau mau jadi orang beruntung di dunia ini ya, usaha jangan cuma sibuk berwacana.

Jadi hidup dalam prosesnya nggak selamanya sesuai kemauan kita. Orang beruntunglah yang mampu mengubah sesuatu yang nggak sesuai dengan isi kepalanya menjadi hal yang menyenangkan. 

Orang beruntung menghargai bukan mengeluh. Antonim dijadikan teman bukan musuh. Bukankah beruntung menjadi orang beruntung?

Hidup sejatinya dijalani bukan dihakimi. Hidup disyukuri bukan dimaki. Hidup saling mencukupi bukan saling melebihi. Hidup itu aku, kamu, dia dan mereka di semesta ini. Kita semua saling menghidupi.

Saya masih belajar, jadi maaf kalo gambaran saya tentang arti hidup ini masih cetek atau nggak sesuai dengan punya kamu. Masih banyak yang nggak saya tahu. Masih banyak yang mau saya tahu. Mungkin saat ini, baru itu yang saya tahu.

Saya  masih terus bertanya-tanya di hidup ini. Kumpulan tanya di kepala yang membuat saya merasa hidup sampai saat ini! Saya cuma berpesan jangan pernah berhenti bertanya, dengan tanya itulah kita masih punya gairah dalam hidup ini.

Siapa yang berhenti bertanya dia terbiasa menunggu dan pada akhirnya tak pernah mau menjemput. Walaupun tak semua tanya itu ada jawabannya. Atau malah kadang tanya itu menghasilkan tanya lain, tak apa!

Dengan bertanya-tanya kita coba memahami proses hidup ini.  Berarti kita benar-benar hidup karena masih berpikir. Hargailah setiap detik momen yang terjadi dalam hidupmu.

Arti itu sederhana. Sederhana itu mahal. Mahal itu pengorbanan. Saya ingin menjemput jawaban dari segala tanya. Kamu juga ya, kita sama-sama.

Jadi mulailah perjalananmu, jemputlah arti hidupmu, jemput antonimmu!

You Might Also Like

0 komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Subscribe