Perkara Menilai Senja

00.23.00

Pernah mengirim surat? Bukan, bukan surat lamaran kerja atau surat elekronik alias email. Tetapi surat yang ditulis dengan tanganmu. 


Di mana pada tiap goresannya ada milyaran rasa. Lalu dilipat hati-hati tak lupa rapi ke dalam amplop wangi. Diam-diam di setiap langkah kita, cinta menguntit menuju rumah pak pos. Pernah? Ah, pasti banyak yang menjawab tidak.  

Pernah mengirim senja? Ah, ini apalagi. Surat saja nggak, konon mengirim senja gimana caranya? Tanya Sukab dia pasti tahu. Siapa Sukab?

Berawal dari Twitter, saya iseng mengomentari salah satu dari twit seorang penulis. Sengaja sih, sok-sok mancing dengan nyelipin salah satu tulisannya. Dengan harapan yang tak lain tak bukan adalah di-ba-las, cheesy sekali memang. 

Ternyata dibalas dan karena dia tahu saya membaca bukunya. Dia bilang untuk me-review. Saya sama sekali belum pernah nge-review buku sebelumnya. Paling juga dulu waktu jaman sekolah disuruh ngerangkum isi materi buku pelajaran. Ngerangkum sama me-review beda  kan, ya? 

Jadi saya sekarang mencoba-coba me-review buku. Buku apa? Buku ini judulnya ‘Perkara Mengirim Senja’. Penampakannya seperti di bawah ini.


           
Buku ini sebuah antologi. Antologi itu kumpulan cerpen yang dijadikan dalam satu buku. Kumpulan cerpen di buku ini tidak ditulis oleh satu orang. Melainkan keroyokan oleh beberapa penulis hebat.  

Saya termasuk orang yang sangat kuper karena cuma beberapa dari mereka yang saya tahu. Terus terang masih banyak buku yang saya belum baca, jadi saya nggak tahu kalau banyak penulis keren sekarang ini. Sesuai judulnya Perkara Mengirim Senja tentu saja berkaitan dengan senja. 

Buku ini adalah  tribute to persembahan untuk seorang SGA. SGA adalah singkatan sebuah nama seseorang, Seno Gumira Ajidarma. Memangnya siapa dia, sehingga para penulis muda ini mendedikasikan tulisannya atas karya SGA yang telah banyak menginspirasi mereka.  

Saya juga  nggak tahu. Ngaku-ngaku menyukai sastra tapi saya sekali nggak mengenal SGA? Itu sama kayak ngaku mengenal semua bumbu dapur, tapi nggak tahu kalau ada garam. Fatal! Dengan bantuan Google saya mencoba mencari tahu.  

Keluarlah gambar foto seorang om-om berambut gondrong dan brewokan. Dia itulah Seno Gumira Ajidarma sastrawan penulis top Indonesia yang telah melahirkan puluhan buku, cerpen, puisi dan lainnya. Karyanya tak pernah diragukan lagi dan menggerakkan semangat  penulis-penulis muda.  

Terkenal dengan tokoh Alina dan Sukab yang hampir selalu hadir di ceritanya. Sukab yang berani-beraninya memotong senja dan mengirimkan untuk gadis yang dicintainya, Alina. Semua perempuan di dunia ini pasti iri dengan Alina.

Review saya kali ini murni dari sudut pandang orang awam yang belum pernah sama sekali membaca karya SGA dan masih pembaca amatiran. Tafsir saya dalam antologi ini juga berdasarkan apa yang saya rasa saja.  Kalau saja senja itu diibaratkan singkong.  

Para penulis ini mengolah singkong menjadi berbagai macam rupa dan rasa hasil olahan. Ada yang mengolahnya menjadi keripik singkong dengan rasa keju, sederhana tapi banyak suka. Ada yang berbentuk serupa chicken beef. Semua pasti mengira itu daging ketika digigit ternyata singkong, tak terduga.  

Ada yang ketika dimakan, nggak ada rasa singkongnya, ternyata ngolah kulitnya saja. Ada yang ngolahnya menjadi makanan riweh yang saat dimakan ini apa? Absurd.  

Begitulah kira-kira gambarannya. Menurut saya metafora dan diksi adalah topping dalam sebuah cerita.  Kebayangkan kalo topping-nya berlebihan? Walaupun enak jadi eneg. Setengah jalan udah kenyang terus udahan makannya.   

Begitu juga sebuah cerita. Cerita yang baik bagi saya adalah cerita yang tak membiarkan saya kekenyangan di tengah jalan. Melainkan membiarkan saya terus lapar sampai akhir. Apa cerpen di buku ini membuat saya kenyang, atau kelaparan atau tak selera makan?  

Baiklah cukup basa-basinya nanti kebasian. Satu-satu saya coba review di bawah ini. Di dalam buku ini terdapat 14 pengarang dan 15 cerita di dalamnya.

1.      Gadis Kembang – Valiant Budi Yogi

Saya punya beberapa buku Vabyo sebelumya seperti Joker, Bintang Bunting, The journeys dan 1001 Kedai Kopi Mimpi. Yang terakhir itu kisah nyatanya menjadi TKI ketika di Arab Saudi. Tipikal Vabyo dia tak akan pernah membiarkan pembacanya begitu saja menduga-duga ceritanya. 

Begitu juga dengan cerpennya di buku ini ‘Gadis Kembang’. FYI ,  dia pencipta beberapa lagu SMASH. Iya, SMASH sang pelopor boyband di Indonesia. Vabyo selalu penuh kejutan!


2.      Perkara Mengirim Senja – Jia Effendie

Judul cerpen Jia ini dijadikan juga sebagai judul buku Perkara Mengirim Senja. Senja dijadikan komoditi yang bisa diperjual-belikan di cerpen ini. Menurut saya toppingnya kurang mengalun halus. Oh, Tuhan saya sok tahu!  Ini cuma masalah selera saja. Ide ceritanya unik. Jia bukan penulis sembarangan!

3.  Selepas Membaca Sebuah Pertanyaan untuk Cinta, Alina Menuliskan Dua Cerita Pendek Sambil Membayangkan Lelaki Bajingan yang Baru Meninggalkannya – M. Aan Masyur

Nggak usah terkejut dengan begitu panjang judul cerpen karya Aan ini. Di dalamnya  terbagi lagi dalam dua cerita. Saya suka kedua cerita Aan. Dia berhasil tidak membuat saya kenyang di tengah cerita oleh kedua suguhan makanannya. Aan penulis esentrik!

4.      Kuman – Lala Bohang

Ini tipe cerita yang singkongnya nggak dipake cuma kulitnya doang. Tentang bagaimana karena cinta, kuman menjadi idaman. Masalah berbagi menjadi tak berarti. Cover dan semua ilustrasi indah di buku ini dibuat oleh Lala. Lala penggambar cerita yang kece!

5.      Ulang – Putra Perdana

Putra mungkin memang sengaja membuat judul yang sama dengan apa yang dilakukan orang ketika membaca ceritanya meng-Ulang. Kecintaannya terhadap sains dan teknologi memberikan pengaruh kuat ke dalam tulisannya. 

Terasa kental ketika menggambarkan tokoh ceritanya. Absurd. Menurut saya dia cocok sekali membuat cerita fiksi fantasi ilmiah. Kira-kira begitulah saya nggak tau penyebutan yang benar untuk genre seperti itu. Putra juru cerita yang memancing tanya di akhir paragraf!

6.      Akulah Pendukungmu  dan 7. Satu Sepatu, Dua Kecoak ... – Sundea

Sundea menulis dua cerita di dalam antologi ini. Saya suka Sundea. Bukan karena nama kita sama-sama Dea. Sempat kepikiran saya mengganti nama menjadi Moondea *abaikan*. Di cerita pertama menggambarkan sosok garuda pancasila yang mempunyai kesaktian di setiap hari Kesaktian Pancasila. Dan kali ini dia ingin menggunakan kesaktiannya untuk seseorang. Siapa? Baca donk *dikeplak*. 

Yang kedua cerita seorang gadis yang membuang semua sepatu sebelah kirinya. Apa kaki kirinya jamuran? Bukaaaaan...bagi Reta lengkap tidak harus sepasang.  Dea pendongeng yang baik!

8.      Empat Manusia – Faizal Reza

Ini cerita cinta saling silang. Menyilangkan, menyembunyikan dan menyatakan semua atas cinta.  Keempat manusia ini hanya terperangkap dalam cinta yang pengap tanpa berani mengungkap. Faizal menyilangkannya dengan rapi.

9.      Saputangan Merah – Utami Diah K

Bagi saya cerita ini biasa saja tak ada yang istimewa. Tapi ceritanya mengalir tenang, dituturkan dengan apik oleh Utami. Utami penutur ciamik!

10.  Senja dalam Pertemuan Hujan – Mudim Em

Bercerita tentang dua yang ternyata tiga entah empat dan seterusnya kita tak pernah tahu. Dan Mudim menjalinnya dalam satu. Membuat kita di akhir cerita berkata “Dasar!”

11.  Kirana Ketinggalan Kereta – Maradilla Syachridar

Yang ngaku suka Homogenic pasti tahu cewe ini. Dia additional vokal sekaligus merangkap synthesizer dan menciptakan beberapa lagu juga. Kirana Ketinggalan Kereta bercerita seorang pria yang begitu mencintai gadisnya. Tebak siapa? Ya, tentu saja Kirana. 

Entahlah sepertinya Kirana ini galau maksimal dan entah kenapa Gupta mencintai gadis sebegitu galaunya. Yang  pada akhirnya mereka dijemput kereta keabadian.

12.  Gadis Tidak Bernama – Theoresia Rumthe

Ini salah satu tulisan favorit saya. Tidak macam-macam sederhana tapi bukankah sederhana itu indah, menyentuh dan manis. Saya yang kuliah sering bolak-balik ke BPS (Badan Pusat Statistik) ingin sekali ke DPS (Dinas Penelitian Senja), kantornya Gadis Tidak Bernama. 

Walaupun dia jarang ke kantor. Di mana sebenarnya kantornya berada si segala penjuru bumi. Dimanapun senja terlihat. Saya suka sekali cerita ini. Theo pemimpi yang handal!

13.  Guru Omong Kosong -  Arnellis

Dikin sang penjaga sekolah yang tiba-tiba diberikan perintah untuk menggantikan guru yang yang berhalangan hadir. Dia hanya disuruh untuk menuliskan perintah yang telah dibuat ke papan tulis bukan menggantikan mengajar. Tapi hasrat Dikin lebih dari itu dia ingin mengajar.

Apalagi Dikin telah mengantongi Kitab Omong Kosong. Apakah harapannya terkejar? Arnellis mungkin punya maksud arti tersirat yang ingin ditangkap oleh pembaca di cerpennya. Tak ada senja disini.

14.  Surat ke-93 – Feby Indirany

Kisah mengenai yang terbaikan. Aku di cerita ini yang lebih mencintai pagi daripada senja. Baginya sakit itu bukannya dibenci melainkan tidak dipedulikan. Cerita fajar yang diabaikan senja. Dimana dalam terabaikan masih menunggu berharap dapat bertatap. Feby menulis cerita tentang terabaikan tanpa mengabaikan keindahan ceritanya.

15.  Bahasa Sunyi – Rita Achdris

Di akhir saya tertawa membaca cerita ini. Mengingatkan saya pada salah satu statement  seorang politikus. Ceritanya menarik. Akan banyak ia dan dia bergelimang di cerpen ini. Rita berhasil membuat alur yang memikat.

Itulah ke-15 belas cerita dalam antologi buku Perkara Mengirim Senja yang coba saya review. Tentu saja rasanya berbeda tiap orang. Hanya perkara selera masing-masing. Kemarin sore saya bersiap-siap. Sudah mandi sudah wangi saya duduk-duduk cantik menunggu datangnya senja.  

Saya ingin menilai senja. Setelah agak lama memperhatikannya, saya berpikir sebenarnya bagaimana menilai senja? Apakah dengan bintang? Satu bintang, dua bintang, tiga bintang, empat bintang dan yang paling besar biasanya lima bintang. 

Saya merenung tapi bukankan senja dan bintang berbeda? Bagaimana bisa senja disandingkan dengan bintang? Diukur dengan bintang? Tak adil rasanya. Akhirnya saya tersadar senja bukan untuk dinilai tapi dinikmati saja.  

Sama dengan buku ini tak usah mencari perkara menilainya nikmati saja. Senja terlalu indah untuk dinikmati sendiri begitu juga dengan buku ini. Kalau senja dibagi-bagi, buku ini dibeli-dibeli. Selamat menikmati senja dan saya sekarang mau merebus singkong. Soalnya  saya baru bisa merebus yang lain belum. 

Harus belajar banyak mengolah :)
               

You Might Also Like

0 komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Subscribe