Ada Apa Dengan Willy?

09.13.00

Ada apa dengan Willy? Apa Willy pergi beberapa purnama dan tak kembali?
Bermula dari pemberitahuan sebelumnya, diwanti-wanti jam tiga pagi kami akan mengejar lumba-lumba. Masih di 6 hari 5 malam mengarungi Bali Utara bersama KitaINA. Jadi jadwal keesokan di hari kelima adalah melihat lumba-lumba di Pantai Lovina.
Tiga pagi? Otak saya berusaha untuk mencerna mengejar lumba-lumba jam tiga pagi. Berarti saya harus bangun jam 2 pagi untuk bersiap-siap. Tidak pernah sekalipun saya mengejar siapa-siapa seniat itu di hidup ini, tapi demi lumba-lumba saya ikhlas. Merelakan sesuatu yang sangat berharga selain kamu, tidur.
Di otak saya berkeliaran saya akan menemui Willy. Salah satu judul film yang pernah saya tonton. Ssstt..tunggu dulu! Saya tahu apa yang dipikiran kalian, seperti ada yang salah.
Dan akhirnya bisa bernapas lega, mengejar lumba-lumbanya diundur menjadi jam 5 pagi. Mungkin jam 3 pagi lumba-lumbanya masih bobo juga.
“Deket kok dari sini, kita nggak terlambat”, terang Mas Galih, guide yang menemani kami selama di Bali Utara. Kesepakatan semalam berangkat jam 5 pagi pun molor pindah ke jam 6. “Kau yang berjanji, kau juga yang mengingkari.” Lagu dangdut itu berputar-putar di otak saya mengiringi mengantar perjalanan menemui Willy.
Waktu terbaik untuk melihat lumba-lumba adalah jam 6-7 pagi. Pantai Lovina hanya berjarak sekitar 20 menit dari penginapan kami Mayo Resort.


Pantai Lovina terletak di Desa Kalibukbuk, Kabupaten Buleleng. Nama Lovina sendiri terasa tidak Bali, memang benar karena di dalam Bahasa Bali tidak ada huruf “V”. Nama ini diberikan oleh Anak Agung Panji Tisna, keturunan Raja Buleleng.
Ada berbagai versi tentang pengartian nama Lovina. Ada yang bilang nama Lovina terinspirasi dari sebuah hotel kecil di India “Lafeina” di mana Anak Agung Panji Tisna pernah menginap di sana. Beliau sangat mengagumi kehidupan budaya di India. Setelah pulang ke Bali membangun bungalow bernama Lovina.
Lalu ada yang mengatakan Lovina berasal dari dua suku kata “Love” yang artinya cinta dan “Ina” berarti Ibu dalam Bahasa Bali. Jadi Lovina adalah ‘Cinta Ibu’, yang bermakna pada Ibu pertiwi, cinta akan tanah kelahiran.
Dan pada akhirnya Ketut Ginantra, Bupati Buleleng pada masa pemerintahannya mengartikan Lovina sebagai singkatan dari “Love dan “Ina”. Di mana “Love” adalah cinta dan “Ina” adalah Indonesia. Lovina merupakan singkatan dari Cinta Indonesia. Seperti KitaIna, Kita Indonesia.
Jukung, sebutan untuk kapan kecil yang akan kami naiki sudah tertengger rapi menunggu. Mata saya langsung tertuju ke jukung bewarna kuning pisang bertuliskan Morning Happiness di badannya. Dan kebahagiaan memang sedang menunggu di pagi hari itu.


Saat menunggu jemputan mobil di resort. Samar-samar terdengar  suara gluduk dan awan kelabu terlihat. Khawatir akan turun hujan. Jika hujan turun dipastikan lumba-lumba tidak akan muncul.
Dan kami beruntung hari itu, cuaca berubah membaik sesampainya kita di Pantai Lovina. Jukung melaju dengan kecepatan sedang. Dan kami tidak sendirian ada puluhan jukung lainnya yang sama-sama berniat ingin melihat lumba-lumba pagi hari itu.



Jukung melaju ke tengah laut mencari keberadaan kawanan lumba-lumba. Mata saya pun memandang ke sekeliling mencari keberadaannya.
Lumba-lumba adalah hewan mamalia yang hidup berkelompok, tidak bisa hidup sendirian. Hewan ini menetap di perairan dingin bukan di hati yang dingin.
Lumba-lumba mempunyai cara berkomunikasi yang menarik. Lumba-lumba dinobatkan sebagai hewan cerdas setelah simpanse.


Akhirnya satu-persatu lumba-lumba mulai muncul. Dan saya harus siaga karena dia muncul dari arah mana saja. Katanya ada ratusan lumba-lumba di Pantai Lovina ini.
Saya memegang erat kamera siap membidik supaya tidak kehilangan momen. Tapi arah lumba-lumba yang tidak bisa diprediksi dan cepatnya ia muncul dan kemudian hilang, menyebabkan susahnya untuk mengambil gambar.


Jukung menderu-deru mengejar lumba-lumba. Setiap ada penampakan lumba-lumba, semua jukung akan menuju ke arah tersebut bersamaan. Sesampai di tempat, lumba-lumba menghilang. Begitu terus, ngejar-hilang, ngejar-hilang.


Keberuntungan berperan besar pagi hari itu.


Akhirnya saya pasrah, meletakkan kamera dan memutuskan untuk menikmati melihat hewan yang terkenal ramah pada manusia itu. Saat saya tidak menyibukkan diri, tiba-tiba dari arah samping kanan seekor lumba-lumba salto di udara sebelum kemudian hilang ke dalam air.
Semua terpekik dan bersorak, termasuk saya. Ada rasa haru dan bahagia melihat kejadian itu di tengah laut.
Jukung kami terus menuju jauh ke tengah laut mengejar lumba-lumba. Hari mulai beranjak menuju pukul 8 pagi.  Saya masih bersemangat untuk melihat lumba-lumba.
Di tengah lautan saya berteriak "Willy, Willyy!"
Dyang, salah satu tim kitaINA yang duduk persis di belakang saya berujar, "Kak, Willy itu paus bukan lumba-lumba." Saya pun tersadar.
Gimana bisa saya lupa, saya mengira Willy itu lumba-lumba. Dan ketika membagi di media sosial pun alih-alih menggunakan gambar lumba-lumba saya menggunakan gambar paus. Dea, how come?
Bli yang mengendalikan jukung kami mungkin sama bersemangatnya. Soalnya dia mengejar lumba-lumbanya sampai jauh banget. Tidak semua jukung mengejar sampai sejauh kami.
Karena itu, ketika arah pulang jukung kami sendirian di tengah laut. Semilir angin menerpa wajah saya. Awan biru menggantung di atas serasi dengan laut yang biru.
Berada di atas kapal jukung memanjang yang berukuran hanya muat untuk 5 orang. Dan sejauh mata memandang hanya laut biru, membuat saya merasa kecil saat itu.
Di semesta yang luas ini saya cuma seperti debu. Di atas sana ada yang kuasa atas semua ini. Sepanjang perjalanan pulang, saya mengucap syukur kepada Tuhan atas semua kesempatan yang telah diberikan.
Ada apa dengan Willy? Saya memang tidak menemui Willy hari itu. Tapi saya menemui kebahagiaan. Persis seperti yang tertera di jukung kami, "Morning Happiness."


"Each time you say hello to stranger, your heart acknowledges over and over again that we are all family"
Suzy Kassem




You Might Also Like

0 komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Subscribe